Semen Padang di Liga 2; Nama Besar dan Tongkrongan Sangar, Cukupkah?

Penulis -

Kamis, 13 Februari 2020 - 19:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Marajo
Wartawan Utama

Harus diakui, nama besar sebuah tim tetap menjadi referensi pertama dalam membuat prediksi tim yang akan naik kasta di sebuah kompetisi sepakbola. Di Indonesia misalnya, tim-tim eks Liga 1 yang berlaga di Liga 2, lebih dilirik bakal promosi lagi. Nama menterang dan perjalanan historis klub tetap jadi salah satu pegangan utama.

Semen Padang FC misalnya, tim yang terdegradasi ke Liga 2 musim 2019. Seburuk apapun pusaran badai kendala finansial yang dihadapi jelang kompetisi, atau persiapan yang sangat tergesa-gesa menuju Liga 2 2020, tim ini tetap diperhitungkan sebagai salah satu kandidat serius lolos ke Liga 1.

Salah satu alasan, tim yang “terusir” dari Liga 1 itu dipandang lebih berpengalaman, sudah paham seluk beluk Liga 1. Kemudian, materi pemain pun dinilai lebih plus dari tim lain, karena bagaimanapun daya tarik eks Liga 1 masih bisa menjadi magnet pemain-pemain beken untuk bergabung.

Liga 2 musim lalu, tim-tim sekelas Sriwijaya FC, Mitra Kukar, dan PSMS Medan disebut akan dengan mudah beranjak kembali ke kasta tertinggi itu. Tapi apa daya, prediksi ternyata tak seindah fakta. Ketiganya terpental sebelum memastikan langkah ke Liga 1. Bukti, tak selamanya nama besar, materi pemain berkelas, atau uang berlimpah, jadi jaminan sebuah tim akan mudah melenggang naik kasta.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Faktanya yang akhirnya promosi ke Liga 1 2020 adalah Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh. Bisa dikatakan, tak banyak yang percaya ketiga tim itu bisa mengubur mimpi klub-klub beken mantan Liga 1 itu.

Apa kunci keberhasilan mereka?
Yang pasti ini bukan cerita Seribu satu malam, pasti pula bukan karena sulap dengan password-nya Sim salabim. Yang ada, keberhasilan bukanlah hasil kerja instan, tapi penuh drama, menguras tenaga, dan pikiran. O ya, satu lagi hal non teknis yang selalu menjadi kiblat mereka; serius.

Persik Kediri, dua musim lalu, mereka masih berada di Liga 3. Ketika promosi ke Liga 2 2019, materi pemainnya juga tak muluk-muluk. Mereka kerja keras membentuk tim untuk bersaing di kasta kedua. Dari pengakuan manajemen tim, tak ada pemain Persik yang berstatus bintang, apalagi berbanderol mahal. Hasilnya, mereka promosi ke Liga 1 2020 dengan status juara Liga 2 2019

Cigap juga Persiraja, tim paling barat Indonesia ini benar-benar hanya mengandalkan semangat fanatisme. Berkali-kali gagal menggapai mimpi ke Liga 1, akhirnya terbayar dengan dramatis di tahun 2019.

“Salah satunya kuncinya adalah kedekatan semua unsur tim, manajemen, tim pelatih, dan pemain. Kita sebuah keluarga dengan satu lambang di dada. di Grup WA pemain bisa menyampaikan apa saja, mereka anggap saya abangnya, saya anggapip mereka adik-adik saya. Ini membuat kami menjadi lebih kuat, meski secara finansial dan materi pemain kami tidak mewah.”ujar CEO Persiraja Nazarudin Dek Gam suatu ketika.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Berkaca dari Persik, Persiraja, plus Persita yang kurang lebih sama situasi dan kondisinya itu, sukses mereka tak melulu soal aspek teknis. Tambahan yang tak kalah penting adalah attitude, loyalitas, kebanggaan, dan tidak merasa rendah diri bersaing di kompetisi.

Bagaimana Semen Padang di Liga 2 2020?
Oke, nama besar dan rasa segan lawan sudah ditangan Semen Padang. Mungkin tak ada salahnya mengadopsi apa yang dilakukan tiga tim promosi diatas, dimana faktor pendekatan psikologis dan sisi non teknis yang lebih familiar dalam internal tim juga memegang peran sangat signifikan.

Jika dilihat calon-calon punggawa “Kabau Sirah” musim 2020, tongkrongan “Kabau Sirah” cukup sangar dan diyakini bisa membuat lawan “ngilu perut” duluan. Ditambah sosok sekaliber Eduardo Almeida sebagai pemegang komando tim. Walau persiapan singkat dan kilat, lawan-lawan tak akan peduli itu, mereka hanya melihat Semen Padang adalah tim Liga 1.

Eduardo Almeida dihadapan manajemen tim, dengan sangat percaya diri sudah menabur janji akan membawa Semen Padang kembali ke Liga 1. Orang ini begitu “pede” dengan kemampuannya, walau cara dia mempersiapkan timnya kali ini cenderung “tidak normal”. Tapi dia tetap yakin dengan kerja kilatnya, karena dia berbicara dengan ilmu kepelatihannya dan sikap profesionalnya.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Baiklah, anggap saja semua kendala sisi teknis sudah bisa diatasi Eduardo Almeida dan asistennya, tapi apakah pendekatan psikologis yang nyaman terhadap pemain juga akan berjalan aman tenteram juga? Almeida adalah perfect Man dan pekerja keras, lazimnya para profesional dari benua biru. Kabarnya satu peringatan keras sudah dikeluarkannya, jangan diintervensi atau “dicikaraui” kerjanya. Karena itu akan membuka jalan baginya “going home” ke Portugal.

Manajemen timlah yang akan menjadi penawar terbaik nantinya, yaitu manajemen yang menjadikan pemain adalah anak-anak mereka, manajemen yang tak akan bermain-main dengan kehidupan para pemain, dan manajemen yang bisa menjaga semen Padang FC sebuah keluarga yang harmonis dan punya mimpi besar yang harus diwujudkan.

Jika sisi teknis dan non teknis itu sudah terkolaborasi dalam internal tim, mungkin akan ada hasil positif yang bisa didapatkan, tim ini akan kembali ke Liga 1. Kalaupun nanti endingnya tetap negatif, sesungguhnya juga bukan hal mengejutkan. Itu tandanya Semen Padang masih seperti dulu, masih terlalu banyak orang “pintar” dan “berkuasa” disana. “Semen Padang komah diak.”paling itu kata para mantan pemain sambil nyengir.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB