Ini Penyebab Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Sering Terjadi di Sumbar

Penulis -

Kamis, 19 Desember 2019 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Kuota pupuk bersubsidi untuk Sumatera Barat sebanyak 51 ribu ton per tahun belum mencukupi kebutuhan petani sehingga kelangkaan sering terjadi terutama pada akhir tahun.

“Kuota 51 ribu ton itu hanya bisa memenuhi kebutuhan hingga Oktober, sehingga pada masa tanam akhir tahun, petani kesulitan mencari pupuk bersubsidi,” kata anggota DPR RI Komisi VI Dapil Sumbar, Andre Rosiade.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Ia mengatakan tidak ada solusi lain yang bisa dilakukan kecuali meminta tambahan kuota kepada Menteri Pertanian dan ia meminta Gubernur Sumbar segera menyurati kementerian tersebut.

“Secepatnya gubernur harus menyurati, nanti kami kawal di DPR RI,” katanya.

Andre menyebut jika Pemprov Sumbar tidak bergerak cepat, tambahan kuota itu sulit terealisasi karena dari 14 juta ton kebutuhan pupuk subsidi sesuai RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok) yang disahkan itu hanya 7,9 juta ton.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan pihaknya telah menyurati Kementerian Pertanian terkait kekurangan kuota pupuk bersubsidi di daerah itu dan minta penambahan kuota pada 2020.

“Kita sudah surati tinggal dibantu anggota Komisi VI DPR RI. Kami berharap wakil Sumbar di komisi itu bisa mengawalnya,” katanya.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Pada akhir 2019 ini kelangkaan pupuk bersubsidi memang terjadi pada beberapa daerah di Sumbar, terutama pada sentra perkebunan seperti Pesisir Selatan, Dharmasraya dan Pasaman.

Hal itu, katanya harus menjadi perhatian semua pihak. Fakta bahwa pupuk subsidi sering langka di daerah sentra perkebunan juga harus jadi perhatian khusus.

“Jangan ada penyelewengan dalam distribusi,” katanya.(*/mbb)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB