Padang, Prokabar-Bank Indonesia menilai kelesuan sektor perkebunan, utamanya kelapa sawit bakal berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi Sumbar triwulan IV 2019.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Padang, Wahyu Purnama menyampaikan, pengaruh itu sejalan dengan perkiraan anjloknya produksi industri pengolahan, utamnya crude palm oil (CPO).
“Ya, karena panen raya sawit telah berakhir. Puncaknya triwulan III,” ungkapnya pada Prokabar dalam Laporan Keuangan dan Ekonomi Daerah di Padang, Sabtu (24/11).
Bank Indonesia mempredksi pertumbuhan ekonomi Sumbar 5,0 persen-5,4 persen. Angka itu lebih rendah dari triwulan IV 2018 yang mencapai 5,50 persen.
Secara tahunan, pertumbuhan diprakirakan berada pada kisaran 4,8 persen-5,2 persen. Prediksi itu sedikit turun dari realisasi 2018 yang mencapai 5,14 persen.
Akibatnya, lanjut dia, pasokan bahan baku ke pabrik menjadi berkurang. Anjloknya produksi tak dapat terelakkan. Kondisi itu berdampak serta pada industri makanan dan minuman.
Sebagian besar atau sekitar 80 persen bahan bakunya berasal dari CPO. “Makanya, sektor industri penghalang utama laju pertumbuhan 3 bulan ke-4 tahun ini,” jelasnya.
Kendati demikian, konsumsi rumah tangga dan investasi pemerintah menjadi penyokong ekonomi triwulan IV. Daya beli masyarakat masih tetap terjaga.
Pertumbuhan tahunan konsumsi swasta diprakirakan 5 persen atau pertama sejak 2018. Investasi pemerintah berlanjut, seiring realisasi belanja modal pemerintah.
“Serta makin giatnya pengerjaan beberapa proyek infrastruktur strategis yang targetnya rampung akhir 2019,” tutupnya. (tds)
















