Padang, Prokabar – Bank Indonesia memprediksi kinerja ekspor Sumbar memgalami penurunan di triwulan IV 2019. Hal itu sejalan dengan penurunan panen sawit dan pemangkasan ekspor karet.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Padang, Wahyu Purnama mengungkapkan, setelah melewati musim panen raya pada triwulan sebelumnya, produksi kelapa sawit Sumbar diperkirakan bakal mengalami penurunan.
“Puncaknya mulai triwulan III 2018 sampai triwulan III 2019. Setelah itu diprediksi akan turun,” ungkapnya dalam Kanjian Ekonomi Eegional yang diterima Prokabar di Padang, Senin (4/11).
Penurunan panen itu secara otomatis bakal berdampak serius pada kinerja ekspo Sumbar. Sebab, selama ini CPO dan karet merupakan komoditi penyumbang nilai ekspor terbesar di daerah itu.
Bank Indonesia, mencatat CPO dan karet merupakan komoditas ekspor utama Sumbar. Sepanjang, triwulan III, kontribusi keduanya dalam kinerja ekspor mencapai 66.85 persen.
Kemudian disusul kopi dan teh, 15.30 persen.
Selain itu, lanjutnya, harga CPO yang belum kunjung membaik menjadi penghambat bagi petani meningkatkan produksinya.
Kondisi itu diperparah dengan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama.
“Perang dagang AS dan Tiongkok yang kian panas dan hambatan dagang internasional membuat kinerja ekspor makin sulit,” jelasnya.
Berdasarkan data Bursa Komoditas Malaysia, rerata harga CPO di triwulan IV 2019 yang menggunakan skema kontrak futures diperdagangkan pada MYR 2200/metric ton.
Di lain sisi, lemahnya permintaan dunia juga berdampak pada permintaan karet alam. Apalagi ditambah dengan curah hujan yang tinggi mengakibatkan kualitas karet jadi rendah.
“Ini tentu berdampak pada harga getah karet yang cenderung rendah di tingkat petani. Ujungnya petani jadi enggan menyadap karet,” tutupnya (tds)
















