BI Prediksi Ekspor Sumbar Triwulan IV Bakal Tertekan, Ada Apa ?

Penulis -

Senin, 4 November 2019 - 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Bank Indonesia memprediksi kinerja ekspor Sumbar memgalami penurunan di triwulan IV 2019. Hal itu sejalan dengan penurunan panen sawit dan pemangkasan ekspor karet.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Padang, Wahyu Purnama mengungkapkan, setelah melewati musim panen raya pada triwulan sebelumnya, produksi kelapa sawit Sumbar diperkirakan bakal mengalami penurunan.

“Puncaknya mulai triwulan III 2018 sampai triwulan III 2019. Setelah itu diprediksi akan turun,” ungkapnya dalam Kanjian Ekonomi Eegional yang diterima Prokabar di Padang, Senin (4/11).

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Penurunan panen itu secara otomatis bakal berdampak serius pada kinerja ekspo Sumbar. Sebab, selama ini CPO dan karet merupakan komoditi penyumbang nilai ekspor terbesar di daerah itu.

Bank Indonesia, mencatat CPO dan karet merupakan komoditas ekspor utama Sumbar. Sepanjang, triwulan III, kontribusi keduanya dalam kinerja ekspor mencapai 66.85 persen.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Kemudian disusul kopi dan teh, 15.30 persen.

Selain itu, lanjutnya, harga CPO yang belum kunjung membaik menjadi penghambat bagi petani meningkatkan produksinya.

Kondisi itu diperparah dengan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama.

“Perang dagang AS dan Tiongkok yang kian panas dan hambatan dagang internasional membuat kinerja ekspor makin sulit,” jelasnya.

Berdasarkan data Bursa Komoditas Malaysia, rerata harga CPO di triwulan IV 2019 yang menggunakan skema kontrak futures diperdagangkan pada MYR 2200/metric ton.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Di lain sisi, lemahnya permintaan dunia juga berdampak pada permintaan karet alam. Apalagi ditambah dengan curah hujan yang tinggi mengakibatkan kualitas karet jadi rendah.

“Ini tentu berdampak pada harga getah karet yang cenderung rendah di tingkat petani. Ujungnya petani jadi enggan menyadap karet,” tutupnya (tds)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB