Wabup Padang Pariaman: Pesantren Adalah Laboratorium Perdamaian

Penulis -

Rabu, 23 Oktober 2019 - 07:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Parit Malintang, Prokabar — Pesantren salah satu sarana pendidikan tertua di NKRI. Sebelum Belanda sebagai negara penjajah yang sempat menguasai sumber daya manusia dan sumber daya alam, mendirikan sekolah, Ulama-ulama besar seperti Syekh Burhanuddin dan Wali Songo di Pulau Jawa lebih dahulu mendirikan sekolah bahkan setingkat Universitas berupa pesantren.

Umat besar itu lebih dahulu mencerdaskan dan membina masyarakat Indonesia. Sehingga jasa para ulama di Negara Kesatuan Republik Indonesian ini, tidak bisa dilupakan begitu saja.

Terpenting lagi, sejarah lahirnya Hari Santri jatuh pada 22 Oktober 1945 di saat NICA menumpangi Kolonial Belanda yang hendak kembali menjajah NKRI. Pendiri PBNU, Kyiai Hasyim Asy’ari menyatakan Resolusi jihad sehingga menggerakan seluruh santri yang berada di banyak pesantren untuk ikut berjuang bahkan pengorbanan nyawa.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur, memimpin Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2019, di Halaman Kantor Bupati Padang Pariaman, Kemarin (22/10) kemaren. Pada tahun 2019 melanjutkan tema pada tahun 2018 yaitu Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia.

Sejarah kemerdekaan RI jelas kalangan lama membuktikan seperti di masa K.H Hasyim Asy’ari, K.H Ahmad Dahlan, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto perintis organisasi Islam yang membantu pergerakan kemerdekaan RI.

“Isu perdamaian diangkat berdasarkan fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian, sebagai laboratorium perdamaian pesantren adalah tempat menyemai ajaran Islam Rahmatanlil’alamin,” terangnya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Suhatri Bur melanjutkan islam ramah dan bergerak dalam beragama. Sikap ramah dalam beragama sangatlah penting bagi masyarakat yang plural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud.

“Semangat ajaran inilah yang dapat menginsiprasi para santri untuk selalu berkontribusi merawat perdamaian dunia,” ujarnya.

Sebagai orang yang juga pernah menjadi santri, setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian. Yakni kesadaran harmoni beragama dan berbangsa serta bernegara, metode mengaji dan mengkaji. Para santri diajarakan untuk khidmat atau pengabdian, pendidikan kemandirian, kerjasama dan saling membantu dikalangan santri. Gerakan komunitas seni di pesantren, lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal yang remeh sampai hal serius. Merawat khazanah kearifan lokal, prinsip maslahat atau kepentingan umum, dan tidak hanya mendalami tentang islam atau fiqih namun juga mendalami proses pembersihan hati melalui dzikir dan puasa.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

“Dengan adanya Undang-Undang yang mengatur pesantren oleh sebab itu perlu diperhatikan bahwasanya pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan pengabdian terhadap masyarakat, sehingga negara hadir untuk memfasilitasi pesantren tetap menjaga kekhasan dan kemandirian.” pungkas mantan Ketua Baznas Padang Pariaman tersebut. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB