Miris! Kemiskinan Pesisir Selatan, Keempat di Sumbar, Kok Bisa?

Penulis -

Kamis, 10 Oktober 2019 - 06:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesisir Selatan, Prokabar — Miris, dari 19 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumbar, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dua tahun terakhir tercatat peringkat ke empat kemiskinan.

Berdasarkan data BPS Pesisir Selatan dihimpun Prokabar.com, angka kemiskinan pada tahun 2018 tercatat mencapai 7,59, dengan jumlah penduduk miskin 34.924 jiwa dan sedikit turun dibandikang tahun 2017 mencapai 7,79 persen.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Kepala Kantor BPS Painan, Yudi Yos Elvin mengatakan, pemicu utama tingginya angka kemiskinan di Pessel dikarenakan anjloknya harga sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.

“Karena memang sebagian besar, masyarakat Pessel bergerak di sektor pertanian dan pertanian, “ujarnya pada wartawan di kantornya kemarin (9/10).

Ia menyebutkan, peringkat pertama adalah Kepulauan Mentawai. Kemudian disusul Kabupaten Solok dan diikuti Kabupaten Padang Pariaman.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Sebagian besar penduduk miskin itu, lanjutnya, adalah mereka yang berprofesi sebagai buru tani, buru perkebunan dan nelayan kecil.

Mereka tersebar di kawasan pedesaan. “Jadi hasil produksi yang mereka terima lebih rendah dari biaya hidup yang dikeluarkan,” terangnya.

Untuk itu, hendaknya pemerintah daerah membuka lapangan kerja sektor formal. Sebab, sebagian besar ketenagakerjaan di daerah ini masih bergerak disektor non formal.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selain itu, berupaya meningkatkan harga jual komoditi unggulan daerah. Sebagai contoh, mendorong percepatan tumbuhnya sektor primer.

Jika tidak, dikhwatiran angka kemiskinan di Pessel paling ujung pantai barat Sumatera itu makin tinggi. “Karena ketidakpastian perekonomian global,” tutupnya. (min)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB