FMB9 Bahas ‘Di Balik Kebijakan Zonasi’. Simak Manfaatnya

Penulis -

Senin, 1 Juli 2019 - 17:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar – Tahun ini jadi kali ketiga sistem kebijakan zonasi di bidang pendidikan dilaksanakan. Namun penetapan tersebut hingga 2018 masih dinilai tidak berjalan dengan baik.

“Latar belakang dari kebijakan zonasi adalah tahun ketiga dari 2017. Waktu itu memang masih merupakan bersifat alternatif, ternyata tidak berjalan,” ujar Staf Ahli Mendikbud Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang di diskusi media Forum Media Barat 9 (FMB9), Senin (1/7).

Dikatakan Chatarina sejak ditetapkannya kebijakan tersebut, pemerintah daerah setempat tidak menjalankannya. “Apa yang terjadi, ternyata setiap daerah penyampaiannya kurang. Sehingga kami melakukan uji publik, ternyata banyak penyalahgunaan yang terjadi,” tambahnya lagi.

Padahal menurutnya sistem ini dibuat untuk pemerataan pendidikan terwujud. Terlebih, ini mampu menghapus mindset ‘favorit’ terhadap sekolah tertentu.

“Jadi nggak semua lari ke sekolah yang favorit. Guru-guru nggak pengen pindah kesana. Nanti sekolah yang lain harus cukup lama untuk mengejar mutu pendidikan yang favorit itu. Karena dari SDM dan pengajarnya lari kesana semua,” ujar Chatarina.

Sebelum ditetapkannya sistem zonasi, angka pelajar putus sekolah meningkat. Apalagi saat adanya seleksi dengan nilai Ujian Negara (UN), anak-anak yang tidak berprestasi tidak berkesempatan melanjutkan pendidikan.

“Artinya ketika si anak ini dekat dengan sekolah ‘favorit’ dan ternyata tidak masuk karena kurangnya nilai, mereka jadi mencari sekolah yang lebih jauh. Ini sama saja merampas hak anak dalam meraih pendidikan,” tambahnya.

Keuntungan lain dari sistem zonasi jadi jangka panjang pemerintah dalam pemerataan dalam pendidikan. Intinya tidak ada lagi sekolah ‘favorit’ yang dikhususkan untuk anak-anak pintar.

“Zonasi mendekatkan anak dengan sekolah. Peningkatan penguatan karakter anak bisa optimal. Kualitas pertemuan antara anak dan orangtua pun semakin tinggi,” ucap Chatarina lagi.

Selain Chatarina, sejumlah narasumber dalam diskusi ‘Di Balik Kebijakan Zonasi’ dihadiri Hetifah Sjaefudian (Wakil Ketua Komisi X DPR), Hari Nurcahya Murni (Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Dalam Negeri) dan Ahmad Su’adi (Ombudsman RI). (beb)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI
Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari
Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027
Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir
Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup
Merasa Dilecehkan Kadis, Staf Disparporabud Pasaman Lapor Polisi
Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026; Kalah Adu Penalti dari Paraguay, Jerman Angkat Koper
Si Jago Merah Mengamuk Dua Unit Rumah Warga Lubuk Sikaping Tinggal Abu
Tag :

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 14:35 WIB

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI

Senin, 28 September 2026 - 09:52 WIB

Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:51 WIB

Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:14 WIB

Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:48 WIB

Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB