Jakarta, Prokabar – Nama Khalishah Isyana cukup dikenal dalam projek produksi musik lintas disiplin. Diantaranya drama musikal Sherina (2017 dan 2018 – Music Director, Composer, Arranger, Orchestrator, & Conductor), Pak Pandir Sebuah Muzikal (2018 – Arranger & Orchestrator), dan Dongeng Pohon Impian (2019 – Composer & Conductor).
Kali ini, wanita yang akrab disapa Nana kembali menunjukan bakatnya di acara resital kelulusan bertajuk ‘Baca Nada’. Nana membuat pertunjukan tersebut sebagai syarat kelulusan studinya di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA).

Pertunjukan yang digelar di Komunitas Teater Salihara ini, Nana mengajak tiga temannya tampil. Ketiganya adalah, Aloysius Cahyo Pradanto, Cecillia Cati, dan Indra Bayu Rusady.
Mereka membawakan empat lagu berdasarkan aransinya sendiri antara lain “Partita No. 2 in C Minor ‘Capriccio’ “ – J.S. Bach di mana Nana akan memainkan piano. Ia juga akan menyanyi dalam lagu ‘My Foolish Heart’ – Victor Young & Ned Washington.
“Selama lima tahun banyak sekali yang saya dapat di sini. Kadang orang berfikir belajar musik itu hanya main musik aja, sebetulnya nggak juga. Tapi di sini kita belajar sejarah, teori, ideology sebagai musisi, sosiologi, belajar semuanya,” tutur gadis berusia 24 tahun ini.
Dalam acara ini terlihat sekali Nana sangat menguasai beberapa lagu yang dibawakannya, gerakan tangannya yang lincah menghasilkan nada yang membuat penonton kagum akan penampilannya pada malam itu
Bukan hanya piawai memainkan tuts piano, bersama dengan Bigband, Nana juga menjadi konduktor pada lagu ‘Pipoca’ – Hermeto Pascoal. Pentas musik yang dibagi beberapa segmen ini hampir semuanya diisi oleh Nana dengan berbagai keahlian, bahkan juga menyanyi.
Yang menarik, pada sesi terakhir Nana membawakan lagu ‘Ambilkan Bulan Bu’ karya AT. Mahmud yang dipersembahkannya untuk ibundanya tercinta.
“Secara pendidikan nggak semua orang melihat musik itu ilmu pengetahuan, padahal musik itu kayak matematika, kayak fisika juga yang rumusnya segala macam. Jadi orang lebih menghargai musik dan lebih menghargai pekerjaan musisi tapi yang paling utama tidak melupakan identitas musiknya sendiri,” pungkas Nana. (beb)
















