​Panah Beracun Mentawai, Tidak Hanya Sekadar Senjata

Penulis -

Jumat, 14 Juli 2017 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Mentawai pulau di lamun-lamun ombak itu, punya banyak keunikan.  Tidak hanya alam tapi juga budaya dan tradisi masyarakat. Sebelumnya tato Mentawai sudah mendunia, karena menjadi salah satu tradisi tato tertua di dunia. Belum lagi kehidupan Sikerei yang punya banyak keahlian.
Selain itu, masyarakat Mentawai punya tradisi memanah. Uniknya anak panah tersebut dioles dengan racun. Racun itu langsung membunuh target hanya dalam waktu lima menit. 

Panah beracun Mentawai, bagi masyarakat dulunya adalah perisai. Gunanya menjaga diri dari ancaman orang lain ataupun binatang buas. Seiring perkembangan waktu, panah itu kemudian digunakan untuk berburu. 

Berburu bagi masyarakat tidak hanya soal mencari makanan, tapi ada makna di balik perburuan tersebut. Salah satunya  pembuktian  anak laki-laki bisa menjadi lelaki dewasa. Berburu juga dilakukan pada waktu tertentu untuk kepentingan adat.

Tokoh pemuda Mentawai Esmat menyebutkan tradisi berburu ini sudah lama dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Mentawai. 

“Panah dan berburu bagi masyarakat mentawai adalah identitas sosial,” jelas Esmat.

Panah beracun Mentawai ini adalah sakral. Karena itu untuk membuat panah memiliki syarat syarat tertentu. Bahkan tidak semua orang bisa membuat panah. Padahal bahan dasarnya mudah didapat, yaitu pohon aren.

” Bagian pohon aren diolah sedemikian rupa, sesuai dengan pengetahuan adat yang didapatkan secara turun temurun, dan pengetahuan itu menjadi rahasia si pembuat,” sambung esmat yang juga ahli menggunakan panah.

Racun dari panah itu lebih rahasia lagi. Racun yang dioleskan pada anak panah, diracik dari dedaunan yang ada di hutan. Jenis daun yang digunakan, hanya diketahui oleh orang orang tertentu saja. 

“Racun panah sangat berbahaya, sedikit saja menempel pada tubuh manusia atau hewan buruan bisa berakibat kematian, hanya dalam hitungan menit,” Jelas Esmat.

Saat ini panah beracun masih digunakan oleh masyarakat untuk berburu di hutan.

Untuk mengenalkan panah beracun ini kepada dunia, Mentawai akan menggelar Festival Panah Tradisional Mentawai. Dalam iven ini, pengunjung akan diajarkan cara menggunakan panah, melihat langsung proses meracik racun serta melihat prosesi berburu. Tidak hanya itu dalam festival ini akan ditampilkan kesenian tradisional yang jarang ditampilkan selama ini, seperti tari turuk langgai.

“Festival ini digelar untuk memperkenalkan lebih dalam tentang budaya mentawai. Khusus tentang panah lebih kepada pemahaman panah dalam konteks budaya, sehingga tidak terjadi salah tafsir soal panah Mentawai,” Kata Esmat.

Bagi anda yang tertarik dengan budaya dan tradisi Mentawai, atau ingin melihat langsung panah beracun yang asli, silahkan datang ke Pulau Siberut Mentawai tanggal 26-28 Juli 2017. Pengunjung  juga bisa membawa pulang panah beracun replika sebagai aksesoris.(laf)


Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga
Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf
Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik
‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo
Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay
40 Desa Wisata Sumbar Masuk Nominasi 500 Desa Terbaik di Indonesia
Dispar Padang Berikan Pelatihan Tata Kelola, Bisnis Dan Pemasaran Destinasi Pariwisata
Pelaku Usaha di Pantai Air Manis Ikuti Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengelolaan Sampah

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:37 WIB

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga

Senin, 2 September 2024 - 20:53 WIB

Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf

Selasa, 30 Juli 2024 - 21:21 WIB

Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik

Jumat, 26 Juli 2024 - 09:54 WIB

‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:16 WIB

Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB