Padang, Prokabar — Dinas Kesehatan Sumbar menyebutkan bahwa jumlah balita stunting (kerdil) di Sumbar, sepenjang 2015-2018 selalu diatas 20 persen (20%). Seharusnya temuan balita stunting harus di bawah angka tersebut.
“Seharusnya berada dibawah angka 20 persen (20%) dari seluruh balita,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday.
Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh pada anak Balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya.
Dikatakan Merry, stunting disebabkan multidimensi seperti, Praktek pengasuhan yg tidak baik, Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC, post natal dan pembelajaran dini yg berkualitas, kemudian Kurangnya akses ke makanan bergizi dan Kurangnya akses ke air bersih atau akses jamban yang bersih.
Akibatnya, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkn prokdutifitas, dampak ke depab menghambat pertumbuhan ekonomi dan produktivitas pasar kerja yg berujung meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan.
Sementara, laporan World Bank investing in early years brief 2016: stunting mengakibatkan hilangnya 11% GDP, mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Stunting diperkirakan dapat mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup sehingga menimbulkan kemiskinan antar generasi.
Menyikapi masalah stunting ini, kata Merry, Dinkes Sumbar telah melakukan penanganan bagi balita yang sudah terkena stunting yaitu berupa pengasuhan, stimulasi, dan pendidikan berkelanjutan.
“Menyediakan akses air bersih, sanitasi dan lain lain” tutupnya.(gas)
















