Banyangan Ancaman Dalam Pembukaan Lahan Serai Wangi

Penulis -

Selasa, 27 November 2018 - 20:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman, Prokabar — Beberapa areal pegunungan di Pasaman tengah terancam. Bukan main, ancaman ini bisa meluluhlantahkan masyarakat sekampunh jika terjadi. Ini sebabnya.

Di Pasaman, pembukaan lahan untuk kebun serai wangi tengah menggila. Masyarakat berbondong-bondong, babat hutan pinggiran lalu tanam serai. Tidak satu atau dua petani yang melakoni hal ini. Merata semu petani di Pasaman melakoninya. Sebab, pasarannya sedang bagus mencapai Rp200 ribu seliter.

“Itulah yang kita takutkan saat ini. Pembukaan lahan besar-beaaran. Tidak ada sedikitpun kajian teknisnya. Asal lahan kosong, langsung babat,” kata Pardi, (45) salah seorang warga yang mulai khawatir akan hal ini.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Bahkan, Kepala BPBD Pasaman, Maspet Kenedi mengatakan, sebagian banyak longsor yang menimpa Pasaman beberapa waktu lalu, akibat rusaknya hutan di Pasaman.

Kondisi kontur tanah serta kemiringan topografi menjadi penambah faktor terjadinya pergerakan tanah setelah titik itu diguyur air yang berlebihan di lokasi pembukan lahan tersebut.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

“Alih fungsi lahan dari hutan menjadi area perladangan menjadi pemicu terjadinya bencana longsor,” ungkap Maspet, Selasa (27/11).

Selain itu, sistem perladangan yang berpindah-pindah oleh sebagian masyarakat di wilayah itu juga menjadi penyebab terjadinya bencana longsor. Padahal, wilayah Pasaman adalah daerah tangkapan air. “Pasaman selama ini adalah merupakan daerah tangkapan air dan fungsi tersebut dari waktu ke waktu sudah semakin berkurang. Ini disebabkan sistem perladangan yang berpindah-pindah dari satu lokasi, pindah ke lokasi yang lain,” terang Maspet.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

“Serai wangi ini sedang menjadi primadona. Dari pantauan kami, ratusan hektar lahan hutan sudah beralih menjadi ladang serai wangi hingga di kemiringan 50 derajat. Padahal bolehnya hanya di kemiringan 15 derajat. Kondisi itu sangat membahayakan dan rawan memicu bencana,” tutup Maspet. (Ola)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB