Pasaman, Prokabar — Beberapa areal pegunungan di Pasaman tengah terancam. Bukan main, ancaman ini bisa meluluhlantahkan masyarakat sekampunh jika terjadi. Ini sebabnya.
Di Pasaman, pembukaan lahan untuk kebun serai wangi tengah menggila. Masyarakat berbondong-bondong, babat hutan pinggiran lalu tanam serai. Tidak satu atau dua petani yang melakoni hal ini. Merata semu petani di Pasaman melakoninya. Sebab, pasarannya sedang bagus mencapai Rp200 ribu seliter.
“Itulah yang kita takutkan saat ini. Pembukaan lahan besar-beaaran. Tidak ada sedikitpun kajian teknisnya. Asal lahan kosong, langsung babat,” kata Pardi, (45) salah seorang warga yang mulai khawatir akan hal ini.
Bahkan, Kepala BPBD Pasaman, Maspet Kenedi mengatakan, sebagian banyak longsor yang menimpa Pasaman beberapa waktu lalu, akibat rusaknya hutan di Pasaman.
Kondisi kontur tanah serta kemiringan topografi menjadi penambah faktor terjadinya pergerakan tanah setelah titik itu diguyur air yang berlebihan di lokasi pembukan lahan tersebut.
“Alih fungsi lahan dari hutan menjadi area perladangan menjadi pemicu terjadinya bencana longsor,” ungkap Maspet, Selasa (27/11).
Selain itu, sistem perladangan yang berpindah-pindah oleh sebagian masyarakat di wilayah itu juga menjadi penyebab terjadinya bencana longsor. Padahal, wilayah Pasaman adalah daerah tangkapan air. “Pasaman selama ini adalah merupakan daerah tangkapan air dan fungsi tersebut dari waktu ke waktu sudah semakin berkurang. Ini disebabkan sistem perladangan yang berpindah-pindah dari satu lokasi, pindah ke lokasi yang lain,” terang Maspet.
“Serai wangi ini sedang menjadi primadona. Dari pantauan kami, ratusan hektar lahan hutan sudah beralih menjadi ladang serai wangi hingga di kemiringan 50 derajat. Padahal bolehnya hanya di kemiringan 15 derajat. Kondisi itu sangat membahayakan dan rawan memicu bencana,” tutup Maspet. (Ola)
















