Petani Sawit di Pasaman Barat Merugi, Ini Penyebabnya

Penulis -

Senin, 22 Oktober 2018 - 23:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Simpang Empat, Prokabar – Akibat terdampak banjir beberapa waktu lalu, petani kelapa sawit di Nagari Persiapan Maligi, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, mengalami kerugian.

“Dampak banjir yang terjadi sangat terasa bagi petani sawit. Ratusan hektare lahan sawit mereka sejak banjir satu minggu belakangan tidak bisa dipanen,” kata Sekretaris Nagari Persiapan Maligi, Hendrian di Simpang Empat, Senin (22/10).

Ia mengatakan selain itu di sejumlah titik pengumpulan akhir terdapat tumpukan sawit masyarakat yang membusuk setelah di panen yang tidak bisa dibawa dari Maligi.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Menurutnya terputusnya akses jalan masyarakat menuju pusat kecamatan dan menuju jalan perusahaan sejak sepuluh hari belakangan ini berdampak terhadap ekonomi masyarakat Maligi dan sekitarnya.

Ratusan hektare lahan sawit masyarakat tidak bisa dipanen karena setelah di panen mereka kesulitan membawa hasil panen menuju pabrik karena akses jalan yang terganggu.

Di beberapa titik tempat pengumpulan akhir terdapat sawit masyarakat yang membusuk setelah di panen.

Kelapa sawit itu tidak bisa dibawa ke pedagang pengumpul atau pabrik karena jalan menuju pabrik atau pusat kecamatan terputus dan tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Ia menjelaskan banjir yang terjadi sejak Jumat (12/10) menyebabkan akses menuju daerah itu terputus.

Salah seorang petani, Jun (37) membenarkan situasi itu. Selain tumpukan sawit membusuk di daerah Suak Maligi, saat ini terdapat beberapa tumpukan sawit yang sudah membusuk di daerah maligi pascapanen.

Ia mengaku sawit tersebut tidak bisa dijual lagi karena kondisinya sudah tidak layak jual atau hancur.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Selain itu saat ini terdapat ratusan hektare lahan sawit masyarakat sudah memasuki masa penen namun karena akses jalan terputus mereka enggan memanen sehingga membusuk dan jatuhnya brondolan buah sawit dari batangnya.

Ia khawatir jika jalan belum juga diperbaiki maka kerugian masyarakat akan semakin parah karena sebagian besar sawit masyarakat sekarang sudah membusuk di batang.

“Ekonomi masyarakat sekitar sebagian besar bergantung kepada hasil sawit dan hasil melaut. Mudah-mudahan kondisi ini cepat berlalu,” harapnya. (*/mbb)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB