Hadir Dalam Forum Stop TB di New York, Menkes Sampaikan ini

Penulis -

Kamis, 27 September 2018 - 06:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar — Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek hadir dalam diskusi bersama Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI), WHO Global TB Program dan Stop TB Partnership Global di The Roosevelt Hotel, New york.

“TBC membunuh 1,7 juta jiwa lebih banyak daripada AIDS dan Malaria. TBC tidak mudah ditangani, untuk itu penanganannya perlu peran berbagai sektor,” kata Menkes Nila seperti dalam rilis Kemenkes yang diterima, Kamis (27/9).

Menkes menyampaikan, pertemuan ini merupakan langkah pertama dari berbagai tindakan berbagai sektor untuk sama-sama mengeliminasi TBC secara meluas pada 2030.

“Seluruh sektor perlu dilibatkan, harmonisasi program agar visi misi sama dan pemerintah sudah menjadikan TBC sebagai salah satu prioritas Nasional dalam Renstra dan menjadikan TBC sebagai indikator PISPK dan Standar Pelayanan Minimal,” kata Nila.

Dijelaskan, dampak TBC sangat besar dan tersebar luas. Diperkirakan mortalitas akibat TBC telah menyebabkan kerugian USD616 miliar selama periode 2000-2015 dan dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan kerugian lebih lanjut sebesar USD984 miliar secara global.

“Kita tahu bahwa TBC tidak pernah menjadi masalah yang sederhana dan mudah terutama dari sudut bagian termiskin dan terabaikan di dunia. Jelas bahwa TBC bukan hanya masalah kesehatan, tetapi membutuhkan pendekatan multi dimensi untuk akhirnya dihilangkan,” ucap Nila.

Untuk mengakhiri TBC pada 2030, kata dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Butuh komitmen yang kuat dan tindakan dari semua sektor.

Langkah bersama yang dapat dilakukan menuju tahap eliminasi TBC,  pertama, salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah pembiayaan alternatif yang memungkinkan kombinasi negara dan donor atau sumber daya swasta harus dieksplorasi bersama di antara para pelaku yang berbeda.

Kedua, kerja sama lintas sektor. Eliminasi TBC harus melibatkan komitmen jangka panjang dari semua sektor. Masyarakat misalnya, mereka dapat menjadi jembatan untuk mengakhiri TBC. Sementara pada saat yang sama bekerja erat dengan pemerintah dan akademisi dan sektor lain, sehingga akan menurunkan lebih cepat kasus TBC.

Ketiga, bekerja erat dengan pemerintah dalam menangani keragaman dan kompleksitas kasus TBC. Ada peraturan nasional yang tersedia untuk memastikan keberhasilan kolaborasi yang lebih kuat antar pemerintah, seperti Instruksi Presiden tentang Germas, Keputusan Menteri tentang PIS-PK, juga Standar Pelayanan Kesehatan Minimum.

“Semua itu adalah tiga peraturan strategis yang harus kita semua manfaatkan secara optimal,” ujar Menkes.

Selain itu, Ketua FSTPI Arifin Panigoro pada sambutannya menyampaikan Indonesia harus belajar dari negara yang sudah berhasil menanggulangi TBC bahwa eliminasi TBC tidak mungkin tercapai tanpa mobilisasi sumber daya yang masif, efektif dan efisien. Hanya tinggal 12 tahun sebelum 2030, tetapi situasi TBC di banyak negara tidak memiliki kemajuan yang signifikan.

“Sudah saatnya kita merangkul lebih banyak pihak, karena permasalahan TBC menyentuh jauh lebih luas dari kesehatan,” katanya.

FSTPI, tambah Arifin, telah berinisiatif memetakan seluruh pemangku kepentingan relevan dan mengidentifikasi potensi peran masing-masing secara komprehensif.

Ia menambahkan bahwa kemitraan lintas sektor dapat dilakukan melalui berbagi ilmu dan teknologi, cara manajemen yang efisien, pengembangan inovasi, serta mekanisme pendanaan yang stabil.

Melalui acara ini, diharapkan pihak nasional maupun dunia internasional akan meningkatkan kolaborasi lintas sektor dan multi aktor untuk mendorong inovasi dan mengakselerasi upaya eliminasi TBC.

“Komitmen global perlu diterjemahkan juga oleh masing-masing pihak terkait ke dalam aksi-aksi nyata di setiap level pemerintahan, mengedepankan prinsip kemitraan sejajar yang disepakati dalam dialog sebagai kunci untuk mengakhiri TBC,” katanya..

Pada diskusi dalam kegiatan ini, Menkes mengharapkan Dirjen P2P dapat menindaklanjuti FSTPI untuk lebih banyak melibatkan pihak swasta, utamanya yang bergerak di bidang non kesehatan, untuk mendukung pembiayaan operasional Pengendalian TBC yang tidak bisa masuk dalam pembiayaan sektor kesehatan, antara lain bantuan biaya hidup bagi penderita MDR, perbaikan kualitas permukiman penderita TBC serta bantuan biaya transportasi untuk pengambilan obat dan sputum. (*/hdp)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konflik Iran-Israel Memanas: Serangan Rudal dan Drone Tewaskan 24 Orang
Gawat! 300 Ribu Hektare Sawah Hilang, Alex Indra Lukman Desak Negara Dukung Riset Pertanian Lokal!
Langkah Kaki Anak Bangsa Menuju Panggung Dunia: Camp Broadway Indonesia Tampil di Carnegie Hall
Deteksi AFib Untuk Mencegah Stroke Lebih Mudah Dengan OMRON Complete
Anggota DPR RI Ingatkan Masyarakat untuk Cerdas Mengkonsumsi Produk
Aurelius Hospital Negeri Sembilan: Destinasi Wisata Medis Terbaik di Malaysia dengan Layanan Kelas Dunia
Ade Rezki Pratama Dorong Penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Produksi Dalam Negeri
Ini Kelebihan Pembalut Organik untuk Kulit dan Kesehatan Reproduksi Wanita

Berita Terkait

Selasa, 17 Juni 2025 - 19:26 WIB

Konflik Iran-Israel Memanas: Serangan Rudal dan Drone Tewaskan 24 Orang

Jumat, 23 Mei 2025 - 20:27 WIB

Gawat! 300 Ribu Hektare Sawah Hilang, Alex Indra Lukman Desak Negara Dukung Riset Pertanian Lokal!

Sabtu, 19 April 2025 - 20:56 WIB

Langkah Kaki Anak Bangsa Menuju Panggung Dunia: Camp Broadway Indonesia Tampil di Carnegie Hall

Senin, 21 Oktober 2024 - 10:17 WIB

Deteksi AFib Untuk Mencegah Stroke Lebih Mudah Dengan OMRON Complete

Minggu, 11 Agustus 2024 - 21:19 WIB

Anggota DPR RI Ingatkan Masyarakat untuk Cerdas Mengkonsumsi Produk

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB