Yogjakarta, Prokabar.com – Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dan CRIHAP menggandeng Komunitas Eksotika Desa sebuah organisasi yang bergerak dalam kajian, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan untuk memperkuat ekosistemnya agar tidak mengalami kerusakan dan hilang. Menggelar ruang diskusi di Hotel Burza, Yogyakarta dari Senin sampai Rabu (27-29 April 2026). Sejumlah komunitas kebencanaan dan komunitas terdapat bencana Sumatera ikut hadir, bertujuan melahirkan gagasan-gagasan berkualitas sehingga menjadi bahan penelitian atau riset menuju arah kebijakan, mendorong pemerintah memperhatikan nilai kebudayaan pada mitigasi bencana.

Panji, Ketua Komunitas Eksotika Desa bersama Mrs. Moe Chiba (Head Of Unit And Programme Specialist for Culture UNESCO Jakarta) dan Mr. Zhang Jing (Director General CRIHAP) mengatakan, pihaknya berhasil menjalin kerjasama dengan Unesco atau nited Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Keprihatinan dirinya bersama sejumlah aktifis Nasional yang bergerak di organisasi kebudayaan dan humanity, terhadap nilai-nilai beserta benda cagar budaya pasca bencana.
“Bencana alam seperti letusan gunung merapi, banjir bandang, gempa bumi, tsunami dan lainnya sering kali merusak warisan budaya takbenda. Bahkan tidak hanya bebcana alam, tapi prilaku manusia yang merusak juga bagian dari bencana itu sendiri,” Ungkap Aghi seorang konsultan kebudayaan bersama Panji, Ketua Komunitas Eksotika Desa saat kegiatan berlangsung.

Kegiatan “Build Back Better: Safeguarding and Revitalizing Intangible Cultural Heritage in the Face of Disaster” di Yogyakarta (27-29 April 2026) berfokus pada pengintegrasian pelestarian warisan budaya takbenda dalam mitigasi dan pemulihan bencana. Inisiatif ini menekankan respon darurat untuk warisan budaya hidup di tengah bencana.
Melindungi warisan budaya takbenda agar tetap bertahan dan mendukung pemulihan masyarakat pascabencana (build back better). Mengintegrasikan pendekatan budaya dalam strategi pengurangan risiko bencana (PRB).
Memanfaatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat budaya yang rentan bencana untuk merumuskan model pelestarian yang tangguh. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merespons situasi darurat dengan cepat dan tepat melalui pendekatan budaya.
“Hasil kegiatan ini, kita telah merangkul sejumlah data dari sejumlah materi masing-masing peserta. Riset ini akan menjadi bagian penting untuk langkah pengusulan arah kebijakan mitigasi bencana melibatkan pelaku budaya lokal dan nasional agar memudahkan penanganan bencana berbasis budaya nantinya,” Pungkasnya. (rud)
















