Jakarta,-Prokabar: Di tengah upaya keras Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan transparansi rekrutmen menjadi anggota Polri, ternyata tidak menutup celah pelaku kejahatan menjalankan modus operandinya. Masyarakat diminta waspada.
Ini terbongkar, setelah Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Tengah menangkap dua orang tersangka tindak penipuan dalam rekrutmen bintara Polri 2018.
“Betul. Ada dua orang pelakunya. Yang satu atas nama Sodikun mengaku sebagai paranormal, dan yang satunya lagi atas nama Ali Nurudin mengaku sebagai staf kepresidenan dan anggota dari Mabes Polri,” kata Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia, Inspektur Jenderal Arief Sulistyanto.
Perwira tinggi Polri yang dikenal humanis dan berintegritas itu menyebut, kejadian bermula saat seorang calon bintara di Jawa Tengah atas nama Fandi Mega Cahyono, dinyatakan tidak lulus tahapan seleksi di Polda Jawa Tengah 2018.

Tidak lama berselang, orang tua Fandi, Jumono, pun menemui Sodikun untuk meminta bantuan agar anaknya dapat mengikuti kembali tahapan seleksi calon bintara.
Sodikun yang mengaku dukun dan kenal baik dengan Ali Nurudin yang mengaku-ngaku staf kepresidenan dan ‘orang Polri’ meminta Jumono menyiapkan uang tunai Rp350 juta.
Selang dua minggu, Jumono menyerahkan uang Rp 320 juta kepada Sodikun. Dari total uang yang ada, Sodikun memberikan Rp 100 juta kepada Ali Nurudin. Tapi kemudian Ali Nurudin merasa uang yang diserahkan kepadanya tidak sesuai dengan perjanjian.
“Ali Nurudin mengancam Sodikun menggunakan pistol air softgun,” kata Arief. Merasa tak terima, Sodikun melaporkan Ali Nurudin ke polisi tetapi ia tak menceritakan secara detail duduk perkaranya.
Tim Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Jawa Tengah pun menangkap Ali saat hendak ke Jakarta pada 9 Juli 2018. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap keduanya, diketahui bahwa Sodikun dan Ali bekerjasama melakukan penipuan menjadi calo rekrutmen bintara Polri.
“Saat ini, polisi masih memeriksa dua tersangka tersebut untuk mengungkap kemungkinan adanya korban lain. Kepada masyarakat, kami minta, tidak percaya dengan praktik-praktik penipuan dalam rekrutmen Polri. Kalau ada yang meminta uang agar anaknya masuk polisi, lapor. Kami pastikan akan diburu pelakunya,” demikian Arief. (vbm)
















