Maninjau, Prokabar.com – Masjid Ummil Qura merupakan bukti kekayaan intelektual, bentuk keseriusan Nenek Moyang terdahulu. Bentuk bukti nyata kebersamaan nenek moyang membangun peradapan Islam di Nagari Maninjau. Begitulah ungkapan Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi Ansyarullah membuka acara peresmian Rumah Tahfiz dan Perpustakaan Masjid Ummil Qura Duo Sidang, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Jumat (27/6).
Kekayaan intelektual cendikiawan dan ulama terdahulu ini harus kita warisan dan lanjutkan perjuangannya.” Dengan wajib bersatu! Seluruh jajaran pemerintah dengan masyarakat harus bersatu,” tegasnya.
Kritik pada masyarakat Minangkabau sudah menjadi bagian pembangunan bangsa. Dengan kritik membangun sama hal saling nasihat menasehati. “Kritik membangun dengan semangat kebersamaan dan kekompakan dalam umat Islam.” lanjutnya.
Kehadiran kemajuan teknologi berupa android dan gadget, cendrung berdampak buruk pada generasi kita. “Bahkan negara-negara maju dalam dunia pendidikannya, sudah mulai kembali membaca buku dengan mangurangi penggunaan android dan gadget itu.”

Melalui momen pembangunan dan peresmian Rumah Tahfiz beserta Perpustakaan, sangat kita harapkan memperkuat generasi bangsa lebih cerdas dan gemar membaca. Namun paling penting subtansinya tidak hanya hafal Al Quran, anak-anak juga harus memahami isi, mengamalkan dan memperjuangkannya.
“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sejak 20 Agustus 2022 telah diakui Negara sebagai Karakter Pembentuk Bangsa melalui Undang-undang Nomor 40 tahun 2022. Selain Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah juga beserta Adat Salingka Nagari.” terang Buya Mahyeldi Ansyarullah.
Melalui Undang-undang ini akan dibentuk Peraturan Gubernur, bagaimana lembaga nagari semakin kuat. Nagari menjadi Nagari Kreatif Up menjadi Benteng perlindungan anak-anak.
Banyaknya Rumah Tahfiz, lahirnya kompetensi anak-anak tidak hanya penghafal Al Quran, juga mengamalkan dan memperjuangkan Al Quran. “Apalagi juga ada perpustakaan, kami sangat senang meresmikan ini.” tuturnya.
Proses pendidikan sekarang harusnya kembali pada Buku. Interaksi dengan buku, dengan Perpustakaan. Membantu proses pendidikan karekater gemar membaca.

“Setelah belajar baca dan hafal Al Quran, malamnya anak-anak bisa belajar silek di pekarangan masjid. Sehingga masjid menjadi pusat kegiatan, pusat pembinaan umat dan pengkaderan generasi Minangkabau berlandasan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.” Tutup Buya. (rud)
















