Oleh : Nurhafizah Alhusna
Mahasiswa UIN Imam Bonjol
“Memaafkan adalah hadiah yang kamu berikan untuk dirimu sendiri” (The Secret of Heart Note.)
Semua manusia pernah sakit hati. Begitu juga dengan Nana alias Ragil (23) yang sakit hati lantaran tidak dipedulikan oleh rekan kerjanya ketika diajak mengobrol. Nana juga merasa kesal karena rekan kerjanya berbicara songong dan sok pintar, membuat Nana seolah-olah harus diajari. Alih-alih membalasnya dengan perbuatan serupa, Nana malah melakukan pembunuhan terhadap Al-Bashar (32) rekan kerjanya.
Dilansir dari detikNews (25/4), pembunuhan tersebut terjadi ketika korban yang sedang bekerja disikut oleh pelaku, dan dipukul menggunakan shockbreaker hingga tak sadarkan diri. Tak hanya itu, Nana juga menyayat jari korban. Pada saat korban berusaha untuk berdiri, Nana membenturkan kepala korban ke lantai sebanyak tiga kali dan memukul leher kanan korban dengan shockbreaker, serta beberapa pukulan lagi di leher dan kepala korban. Pelaku kini telah ditangkap.
Melanjutkan Hidup adalah Tugas Manusia
Semua manusia pernah punya luka. Tapi menyimpan luka terlalu lama hanya akan menjadi beban. Ibarat batu yang disimpan lama dan dibawa kemana mana, perasaan terluka adalah penghambat perjalanan.
Sebagai manusia yang harus melanjutkan hidup, luka adalah bagian dari perjalanan. Dan berdamai adalah skill yang harus dikuasai.
Sangat banyak ditemukan, orang-orang yang hidupnya telah sukses dan makmur, tetapi tidak bisa menikmatinya karena masih terjebak dengan masa lalu. Mereka selalu mengenang kejadian-kejadian menyakitkan yang pernah dialami, entah itu perselisihan dengan orang tua atau perundungan. Mereka yang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, serta selalu menunggu maaf dari orang lain, akan terus berenang dalam lautan rasa sakit tanpa pernah merasa bahagia.
Bahkan, lebih buruk dari itu, ada juga orang-orang yang kehilangan hidupnya karena terbakar oleh dendam dan amarah yang dipelihara. Meraka terlalu fokus menyusun skenario balas dendam, tanpa pernah memikirkan skenario memperbaiki hidup.
Bagaimana tidak? Sangat sering kita temukan di media kabar tentang mereka yang mendekam di penjara karena membunuh orang-orang bermulut nyinyir. Orang-orang itu terpaku pada sakit hatinya, tanpa memikirkan dampak dari perbuatan yang direncanakan akan menghancurkan hidupnya. Kisah diatas adalah segelintir contoh bahwa menyimpan dendam dan amarah adalah prilaku yang sama sekali tidak menguntungkan.
Maaf dan Lautan Rasa Luka
Memaafkan ibarat menjahit luka. Terasa perih diawal. Namun, seperti benang yang menutup luka, memaafkan adalah bentuk pencegahan dari infeksi. Memaafkan adalah satu kata yang bisa menyelesaikan banyak masalah.
Memaafkan berarti berdamai, karena hidup harus tetap berjalan. Masa lalu adalah masa lalu, biarlah ia ditinggal di belakang. Tak perlu diingat apabila mengulang luka. Sudah seharusnya kita menyambut masa depan dengan memaafkan diri sendiri dan orang lain, demi menjemput masa depan yang lebih cerah.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















