Sebuah Renungan tentang Ketergantungan

Penulis -

Jumat, 25 April 2025 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nurul Azmi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Baterai HP tinggal satu persen, seolah dunia ikut sekarat. Padahal baru dua jam listrik padam, tapi panik sudah menyeruak. “Nggak bisa kerja, nggak bisa nonton, nggak bisa apa-apa,” keluh seseorang. Kita menyebutnya kemajuan, padahal yang terjadi hanyalah keterikatan tanpa sadar pada alat-alat yang dulu katanya hanya untuk bantuan.

Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika dunia terasa bergeser. Bukan karena isu nasional seperti efisiensi anggaran atau pengesahan RUU TNI, melainkan karena listrik padam. Saat itulah kita tersadar, bahwa teknologi telah membius hidup kita.

Kehabisan token listrik bukanlah hal langka. Namun setiap kali terjadi, respons kita selalu sama. Panik. Gadget tak lagi berguna karena baterai habis, Wi-Fi mati, pekerjaan tertunda. Taufik Hidayat dalam Seri Sains: Listrik (2020:6) menulis bahwa energi listrik kini menjadi kebutuhan dasar, dari pagi hingga malam.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Teknologi itu seharusnya memudahkan. Namun realitanya, kita jadi ketergantungan. Alarm kini bukan lagi suara kokokan ayam atau jam weker, tapi HP dan smartwatch. Memasak air pun tak lagi dengan kayu, melainkan dispenser dan rice cooker. Buku cetak digantikan oleh e-book, PDF, dan AI. Surat berubah jadi pesan instan yang dibungkus dalam ketikan. Video call menjadi rutinitas. Jalan kaki tergeser ojek online dan kendaraan listrik. Semua itu membutuhkan dua hal, yaitu daya dan koneksi.

Kita gelisah saat lupa membawa ponsel. Panik melihat baterai tersisa beberapa persen. Kesal karena sinyal lemah. Di ruang keluarga, kebersamaan berubah menjadi kesibukan masing-masing dengan gawai. Mahasiswa kehilangan daya pikir kritis karena terlalu bergantung pada AI. Media sosial menyita waktu tanpa disadari. Judi online merajalela. Game online menjadi pelampiasan. Teriakan kasar di dunia maya menjadi kebiasaan. Perlahan, teknologi bukan lagi alat, tapi penguasa tak terlihat. Bahkan nilai moral pun ikut tergerus.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Mudahnya akses informasi lewat smartphone, justru membuat banyak orang lebih memilih melihat video pendek, meme, atau game online dari pada membaca buku dan artikel panjang. Padahal menurut data UNESCO, minat baca di Indonesia tergolong sangat rendah, yaitu sekitar 0,001% saja. Artinya dari 1000 orang di Indonesia, yang rajin membaca hanya sekitar satu orang saja.

Waktu kecil sebelum gadget merajalela, halaman rumah dipenuhi suara anak-anak yang sibuk dengan dunianya. Saat angin kencang mulai datang, tandanya musim layangan telah tiba. Ketika hujan deras turun, mereka tidak langsung masuk ke dalam rumah, justru malah bermain bola sambil bergelut dengan lumpur. Baju kotor, badan basah kuyup, diiringi dengan tawa bahagia.

Saat listrik padam, tidak ada yang langsung mencari handphone, orang-orang malah keluar rumah, kemudian duduk di teras bersama para tetangga menggantikan suara TV. Bintang-bintang di langit terlihat banyak dan lebih terang, membuat malam terasa lebih hidup meskipun di tengah kegelapan. Tidak ada distraksi atau suara notifikasi, yang terdengar hanyalah obrolan hangat dan kisah-kisah sederhana yang mengikat

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Tapi manusia harus tetap mengendalikan, bukan malah dikendalikan. Jika tidak, kejutan seperti ini akan terus datang. Bukan lagi sebagai peringatan, tapi penyesalan.

Pada akhirnya, ketergantungan pada teknologi bukan kesalahan. Ia menjadi pengingat. Pengingat bahwa kemudahan hari ini jangan sampai mencuri kendali atas hidup kita. Teknologi boleh berkembang, tapi arah tetap harus dipegang manusia. Sebab hidup yang diserahkan sepenuhnya pada mesin, akan kehilangan yang paling penting, yaitu kemanusiaan.

“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan dipenuhi oleh generasi orang-orang bodoh.”

Albert Einstein

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB