Penulis: Sri Mega Hayatulnutupus
Peserta Study Literacy Camp (SLC) 2025
UIN Imam Bonjol Padang
Media sosial layaknya kandang busuk yang menyumbang sampah dan limbah yang melimpah ruah. Salah satu penghuni media sosial terbanyak adalah Generasi Z, yang mana kesehariannya bergelut dan amat lekat bak urat nadi yang terus berdetak. Media sosial sudah menjadi nyawa kedua yang amat mereka pelihara sedemikian rupa. Layaknya sebuah boneka, mereka berjalan di bawah bayang-bayang kendali media.
Baru-baru ini TikTok meluncurkan sebuah tren viral yang hangat diperbincangkan di jagad media yaitu velocity. Karena popularitasnya yang sangat tinggi, velocity muncul dengan berbagai fitur menarik yang menampilkan video pendek dengan berbagai efek, gerakan dan musik yang beragam. Sehingga para penggunanya bukan hanya dari kalangan generasi Z saja, namun sudah merambah hingga generasi Y dan juga generasi X. Banyak kalangan muda hingga lanjut usia turut memeriahkan tren satu ini tanpa memikirkan dampak positif dan negatif hingga manfaat yang ia hasilkan. Sehingga velocity ini dalam kacamata sosial mampu mengubah perilaku dari konsumennya.
Kenapa banyak yang kontra dengan tren ini?
Setelah kemuncul tren ini, maka banyak bertebaran konten-konten yang menayangkan anak muda yang berjoget ria di depan kamera, mulai dari yang menggunakan pakaian tertutup hingga yang terbuka. Tren ini juga tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berusia remaja, namun mereka yang sudah lansia pun juga tak luput dari tren viral ini. Sehingga sangat terlihat tidak wajar mereka yang sudah memasuki usia senja malah berjoget ria di depan kamera layaknya anak muda. Setelah munculnya tren ini tentu memicu beragam persepsi di tengah masyarakat, ada yang menyambut positif, namun tak sedikit pula yang menyuarakan penolakan.
Salah satu alasan yang membuat para warganet kontra dengan tren ini karena beberapa gerakan tangan yang mereka gunakan saat melakukan velocity serupa dengan baphomet hand sings/ symbols on satan’s. Menurut mereka tren ini dianggap mampu menghilangkan harga diri seorang perempuan yang seharusnya identik dengan rasa malu dan sopan. Dalam sebagian postingan terlihat mereka menjulurkan lidah, bahkan membuat ekspresi wajah yang dinilai tidak pantas untuk dipamerkan. Pakaian yang terbuka dan juga membentuk lekuk tubuh dinilai kurang pantas untuk dipublish di media masa yang mana penonton nya bukan hanya warga indonesia saja namun seluruh dunia yang memiliki akses internet dapat melihat ini. Bukan hanya itu, bahkan beberapa muslimah bercadar pun turut meramaikan tren ini, seolah melampaui batasan yang selama ini mereka pegang teguh.
Sementara itu apa alasan mereka setuju dengan viralnya trend ini?
Dalam sebuah kolom komentar banyak netizen yang meninggalkan jejak komentar
“velocity sudah teruji halal guys”
karena melihat seorang tokoh agama juga ikut dalam trend ini.
“ velocity doang kok bukanya cosplay”
“ velocity cuma tangan padahal bukan goyang dumang”
begitu kira-kira cuitan para netizen yang pro dengan trend ini. Sebagian dari netizen yang pro memberikan komentar bahwa sah-sah saja ikut dalam arus velocity, namun kita mesti saring dulu yang mana yang akan kita pilih dan yang mana yang harus kita singkirkan.
“boleh bikin asalkan sopan”
“selagi sopan dan ga berlebihan masih aman kok”.
banyak sekali mereka yang ikut berkomentar tentang trend ini. Beberapa mahasiswa yang juga pro terhadap konten ini berpendapat
“boleh- boleh saja ikut tapi dalam batas wajar dan tidak mengumbar-umbar aurat”.
Sebagian mereka ikut trend ini karena merasa butuh hiburan dari banyaknya tugas yang melanda. Dan mereka juga mengatakan kalau mereka biasanya hanya iseng bikin dan bukan untuk dipublish.
Memang velocity merupakan sebuah hiburan yang diciptakan untuk bersenang- senang semata dan untuk melepas kejenuhan setelah lelah berhadapan dengan pekerjaan dan juga dunia pendidikan. Namun, ironisnya banyak perempuan muslimah, malah ikut serta dalam trend ini dengan pakaian terbuka dan riasan wajah yang berlebihan dan terkadang hijab bagian leher sedikit terbuka, yang jelas-jelas bagian itu merupakan bagian dari auratnya perempuan. Inilah alasan sebagian mereka geram atas postingan yang bertebaran di media sosial. Tidak sepantasnya sebagai muslimah terlibat dalam hal seperti ini. Bukan karena kolot atau kuno dan lain sebagainya namun ini dihindari untuk menjaga marwah sebagai wanita. Karena pada zaman jahiliyah Rasulullah berjuang untuk melindungi harga diri seorang perempuan, namun sekarang justru perempuan itu sendiri yang mengobral harga diri mereka sendiri.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai generasi muda?
Sebagai salah satu bagian dari Gen-Z yang juga sehari harinya terpapar dengan arus dari tren ini juga tidak menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa velocity dapat melunturkan nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang bagroundnya mayoritas muslim.
Namun sebagai generasi z yang cerdas dan berpikir kritis, trend yang tidak membangun seperti ini sebaiknya tidak semuanya diterima. Mestinya kita lebih melek terhadap kemampuan untuk mengelola teknologi yang semakin canggih ini, karena Indonesia butuh orang cerdas bukan generasi bertulang lunak. Karena menurut data terbaru indonesia masuk daftar negara dengan angka pendidikan yang rendah. Banyak anak-anak sekarang lebih suka tenggelam dalam dunia maya seperti TikTok, Instagram, Twiter dan masih banyak lagi.
Sebenarnya karena kita tidak ikut velocity bukan berarti kita ketinggalan zaman, namun banyak cara lain agar kita mampu mengikuti derasnya arus perkembangan zaman diantaranya dengan menulis. Dengan menuangkan isi pikiran dan ide-ide cemerlang kita juga bisa ikuti arus perkembangan zaman bahkan dengan menulis untuk menghasilkan uang. Maka dari itu mari normalisasikan hidup agar bermanfaat bagi orang lain bukanya menjadi benalu dan juga ladang dosa bagi orang lain. Pilah dan pilih langkah yang akan ditempuh karena satu langkah hari ini akan berdampak besar kedepannya nanti. Masa depan Indonesia berada di tangan kita, hancurnya sebuah bangsa tergantung bagaimana anak muda di dalamnya. Sekiranya Indonesia hancur maka warisan apa yang akan kita berikan untuk anak cucu kita nanti. Mereka tidak tahu menau dengan apa yang kita lakukan sekarang, namun nanti mereka yang akan menuai apa yang telah kita tanam pada hari ini.
Kesimpulan
Velocity, Sebagai tren hiburan di media sosial, merupakan sebuah fenomena yang menjadi warna baru dalam cara berkomunikasi generasi muda saat ini. Namun, banyak pendapat berbeda tentang tren ini di balik popularitasnya. Sebagian orang menganggapnya sah-sah saja dan sebagian lain kontra dengan masalah ini. Di sisi lain, orang lain khawatir tentang dampak pada nilai moral, budaya, dan identitas keislaman, terutama bagi perempuan muslimah.
Sebagai generasi muda, khususnya Gen-Z yang hidup di era digital, penting bagi kita untuk tidak hanya menjadi penonton dan pengikut arus, tetapi juga menjadi pemilah yang bijak. Kita harus mampu menyaring setiap tren yang muncul agar tidak ikut terseret dalam arus globalisasi yang justru dapat melunturkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
Menjadi cerdas bukan berarti menolak semua bentuk hiburan, tetapi mampu menempatkan diri dengan baik, tahu mana yang pantas dan tidak, serta tetap menjunjung tinggi marwah diri dan bangsa. Tidak mengikuti tren seperti velocity bukan berarti ketinggalan zaman, sebab masih banyak cara positif untuk berkembang dan berkontribusi salah satunya dengan menulis dan menyebarkan ide-ide cemerlang.
















