Tanah Datar, Prokabar- Erupsi berkepanjangan berdampak terhadap peladang di salingka gunung marapi. Seperti di kenagarian Andaleh, Batipuh, Tanah Datar, petani ladang merugi karena tanaman mereka rusak dan bahkan busuk sehingga tidak bisa untuk dipanen dan dipasarkan.
Nuzul Karnaini, salah seorang peladang Andaleh mengatakan dampak erupsi marapi yang sudah lebih satu bulan membuat ladang sayur mayur seperti kol, bawang prei dan saledri miliknya rusak. Umumnya, tanaman menguning setelah dihujani abu vulkanik.
” liat saja, itu pucuk diatas bawang preinya membusuk. Kalau saledri, seharusnya sudah bisa dipanen tapi ini sudah tidak bisa,” katanya sambil menunjuk tanaman bawang prei miliknya.
Saat ini, dia hanya bisa mengandalkan tanaman yang masih terselamatkan untuk dipanen.
” solusinya ya itu, membersihkan abu dari sayur. Kapan abu itu turun kan kita tidak tahu. Kalau malam, paginya kita bersihkan dengan air biar tidak busuk. Abu yang turun kan panas, itu yang membuat tanaman busuk” ujarnya lagi.
Adapun solusi lain ungkapnya, petani menyemprotkan obat terhadap tanaman yang terdampak abu vulkanik.
” kalau soal sayur mayur nagi petani di salingka gunung marapi, pasti terdampak karena abu vulkanik ini,” lanjutnya lagi
Akibat banyaknya peladang yang mengalami gagal panen, berdampak dengan kenaikan harga sayur mayur baik ditingkat petani maupun di pasaran.
” bawang prei saja, harga diladang 17 – 18 ribu rupiah perkilogram. Harga bawang prei sudah naik juga dari dulu. Kalau saledri itu yang naik sekali mencapai 20 ribu rupiah perkilogramnya dari harga normal hanya 8 ribu rupiah sekilo,” sampainya.
Petanipun memprediksi, dalam tiga bulan kedepan sumbar bakal mengalami kelangkaan sayur mayur.
Hal ini terjadi, karena sebagian peladang di salingka gunung marapi menghentikan sementara untuk berladang hingga kondisi marapi kembali normal.
” bisa saja Sumbar dalam tiga bulan nanti sayur akan langka. Soalnya, tanaman yang berpucuknya kasar dan berbulu itu sangat rentan terkena abu marapi,” tutupnya. (eym)
















