Mencintai Jerami Melalui Pelatihan Pembuatan Kompos dan Pakan Ternak dari Jerami di Kenagarian Anduriang

Penulis -

Jumat, 6 Oktober 2023 - 22:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Dr. Afdhal, M.Pd dan Tim Pengabdian UNP

Ada yang ingin makan durian guys? Ayo kita berkunjung ke Kayunam tapi eiit….jangan lupa mampir dulu ke Nagari Anduriang ini sebelum makan ketan duren. Soalnya masyarakat di Nagari Anduriang ini sedang rajin-rajinnya menanam cabe. Selain itu mereka juga menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi, dan lainnya.

Namun akhir-akhir ini produksi tanaman pangan ini agak menurun karena beberapa kemungkinan yaitu gagal panen karena cuaca, serangan hama, penyakit tanaman, dan pemakaian pupuk kimia yang berlebihan pada tanaman.

Rendahnya tingkat pengetahuan petani akan jenis pupuk lain yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi padi menyebabkan petani begitu tergantung dengan pupuk urea, sehingga petani hanya memakai pupuk urea saja.

Penggunaan pupuk kimia pada tanaman memang akan meningkatkan jumlah produksi dan hasil panen, namun pemakaian pupuk tersebut dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus tentu saja akan menurunkan kualitas kesuburan tanah yang ada pada lahana tersebut. Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pencemaran tanah oleh pupuk kimia antara lain menggunakan pupuk sesuai takaran, mengurangi penggunaan pupuk kimia, memadukan penggunaan dengan pupuk organik.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat, atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, tongkol jagung, kulit coklat, dan sabut kelapa), limbah ternak, dan lainnya.

Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Selain untuk dijadikan kompos, penggunaan jerami padi sebagai makanan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik dan subtropik, terutama sebagai makanan ternak pada saat musim kemarau.

Selain untuk dijadikan kompos, penggunaan jerami padi sebagai makanan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik dan subtropik, terutama sebagai makanan ternak pada saat musim kemarau.

Fermentasi jerami merupakan salah satu pilihan pakan yang dapat diberikan pada ternak. Pakan tersebut terbuat dari jerami padi yang difermentasi dengan menggunakan molase atau tetes tebu yang merupakan hasil samping (limbah) dari proses pembuatan gula.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Molases atau yang biasa disebut tetes tebu merupakan sisa hasil dari proses pengolahan dari pabrik gula. Asal kata molasses adalah dari bahasa latin yaitu mel yang bermakna madu.

Tetes tebu ini sangat berguna sebagai bahan pembuatan pakan ternak, hal ini sudah lam diketahui dan dilakukan semenjak pabrik gula dididikan. Mengingat masih terbatasnya pengetahuan petani dalam memanfaatkan limbah di sekitar ekosistemnya untuk pembuatan pupuk organik dan pakan ternak, maka perlu kedepan menjadi renungan untuk kita bersama dalam memberdayakan masyarakat dalam mengolah kompos dan pakan ternak dari berbagai sumber yang bervarias.

Nah dari uraian diatas penting banget nih kita melaukan pengabdian di daerah ini. Adapun solusi dan target luaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: (a) Pelatihan tentang Pemanfaatkan limbah panen (jagung, kulit coklat, jerami) untuk pembuatan kompos, luaran yang ditargetkan adalah Meningkatnya pengetahuan petani dalam dalam memanfaatkan limbah panen untuk pembuatan kompos.

(b) Pelatihan pembuatan kompos dari bahan jerami. Luaran yang ditargetkan adalah Lahirnya petani yang mampu dan kreatif dalam membuat kompos dari limbah panen yakni jerami.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

(c) Pelatihan pemanfaatkan limbah panen (jagung, kulit coklat, jerami) untuk pembuatan pakan ternak. Luaran yang ditargetkan adalah Meningkatnya pengetahuan petani dalam memanfaatkan limbah panen (jagung, kulit coklat, jerami) untuk pembuatan pakan ternak.

(d) Pelatihan pembuatan pakan ternak/silase dari Jerami. Luaran yang ditargetkan adalah Lahirnya petani yang mampu dan kreatif dalam membuat dalam membuat pakan ternak/silase dari limbah panen yakni jerami.

Hasil dari pengabdian ini adalah , 1) Meningkatkan pengetahuan petani dalam pengelolaan lahan pertanian dengan selalu aktif dalam kelompok tani, 2) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan limbah jerami untuk pembuatan kompos, 3) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mengolah jerami menjadi kompos.

Ayo tunggu apalagi mari kita langsung ke Kayutanam dan harus singgah di nagari Anduring ini deh, Apalagi sekarang musim panen padi loh, jadi pas pulangnya kita bisa bawa beras anak daro dan cabe deh, termasuk cabe syetan dan sejenisnya. Jika Badak Sesekali Berendam Masuk Taman Klaten, Enggan pula Meminta Topi yang Kering, Jika Sanak Pergi ke Daerah Kayutanam untuk Makan Duren, Jangan Lupa Singgah ke Nagari Anduring.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB