Pasaman, Prokbar – Budidaya bawang merah mulai dilirik beberapa petani di Pasaman, khususnya di Lubuk Sikaping. Pasalnya, tanaman yang satu ini dinilai minim resiko. Baik itu resiko gagal panen maupun harga yang anjlok selangit. Itu jarang terjadi.
“Bukan tidak ada resiko gagal ataupun rugi, tapatnya itu minim resiko kalau membudidayakan bawang merah. Makanya kita tertarik untuk membudidayakannya,” kata Boi Candra, salah seorang petani bawang di Lubuk Sikaping.
Diakui Boi, dibanding dengan tanaman rivalnya seperti cabai merah ataupun cabai keriting dan cabai rawit, petani cabai seperti main untung-untungan. Pas harga naik tinggi, para petani pas pula musim panen, senyum sumbringah sudah pasti menanti.
“Coba pas harga anjlok panennya, apalagi anjloknya seperti telur jatuh ke lantai, berderai, sudah pasti tujuh kerut kening para petani,” kata Boi.
Diakui Boi, dari yang ia amati di pangsa pasar dan pengalaman para petani di daerah luar Pasaman, budidaya bawang merah beresiko rendah untuk rugi. Pasalnya, serendah-rendahnya harga bawang merah, modal dalam penanaman masih bisa dikeluarkan.
“Rendah harga bawang, paling kita rugi di jerih payah bekerja. Tidak rugi materi. Sebab, harga bawang itu serendah-rendahnya tidak pernah makan modal. Itu dari pengalaman petani bawang merah di Tanah Datar dan daerah luar Pasaman lainnya,” jelas Boi.
Perihal gagal panen dan perawatan selama musim tanam diakui Boy juga tergolong rendah. Termasuk untuk kosumsi pupuk dan obat-obatan hama lainnya.
“Gagal panen itu untuk semua komuditi pasti ada, itu tergantung kita petani dalam perawatan lahan maupun tanaman. Kosumsi pupuk juga tidak sebesar pemupukan pada cabai,” jelas Boi.
Selain itu, untuk harga jual pasar saat ini, bawang merah kualitas super atau besar itu sekitar Rp35-40 ribu per kilo, kualitas biasa Rp30-35 ribu per kilo, sedang Rp25-30 per kilo dan untuk yang kecil-kecil Rp10 ribu per kilo.
“Kalau pas lagi harga turun, jika ada modal lebih, kita petani bisa menahannya untuk tidak dijual hingga harga stabil. Ini tidak akan berpengaruh pada kualitasnya kalau disimpan dengan cara yang tepat. Jika malas dijual untuk yang kualitas kecil, kita bisa mengolahnya jadi bawang goreng. Harganya pun lumayan tinggi,” pungkas Boi. (Ola)
















