Magelang, Prokabar.com – 230 orang Daya Desa atau Pendamping Desa Budaya pada Program Pemajuan Kebudayaan tahun ke 3 di 2023 ini terus mendapat pembinaan peningkatan kualitas. Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek melalui Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan dengan sangat serius mendorong kebangkitan nilai-nilai budaya luhur Nusantara.
Maya Krisna Direktorat Pelindungan Kemendikbudristek mengatakan, peserta yang telah terbentuk tiga kelompok yakni Katagori Pengkajian 37 orang, Katagori Desiminasi 120 orang dan Katagori Penghayaan 134 orang.
“Kita tidak bermain di Hilir, Tapi bermain di Hulu bukan di muara. Sehingga kita bergerak berakarumput di tengah kehidupan budaya masyarakat,” ungkapnya saat menyampaikan materi di Karangrejo, Magelang, Rabu (21/6).
Maya menambahkan, Desa Budaya harus tetap hidup dan akan memberi kehidupan serta tidak akan bergantung dengan satu sumber saja. Harus banyak sisi dan celah potensi.
Sementara itu, Kusen salah satu narasumber sekaligus pendamping program Pemajuan Kebudayaan Desa ini juga menganalogikan hasil kegiatan yang telah terlaksana oleh Daya Desa Se-Indonesia itu. Ia mengatakan data yang telah terhimpun dalam website Desa Budaya Kemendikbudristek dari Daya Desa telah bermanfaat untuk banyak orang atau masih sampah yang tidak berguna?
“Data atau Sampah,” tegasnya.
Ia mengilustrasikan kisah film Datuak Maringgih dan Siti Nurbata dari Sastrawan atau Novel Marah Rusli dari Sumatera Barat. Datuak Maringgih menjerat hutang ke Ayah Siti Nurbaya. Sehingga ia harus merelakan menikahkan anaknya Siti Nurbaya ke Datuak Kaya Raya tersebut.
Padahal Datuk di Minangkabau bukanlah orang Kaya dan Bukan hidup sebagai pedagang atau berniaga. “Ini data salah!” menurutnya.
Cara kerja selanjutnya, Pemutahiran Data dan menciptakan Ekosistem Kebudayaan dari 10 Objek Kebudayaan.
Dari hasil temuan data atau temukenali harus berlanjut pada Kreasi atau menciptakan ide atau gagasan, Produksi atau membuat prodak atau hasil karya baru. Seperti menciptakan kreasi baru sehingga memperkaya kebudayaan masyarakat senang dan bahagia.
Berlanjut distribusi atau mempromosikan, penyebarluasan. Hal ini menjadi rujukan atau dapat ditiru masyarakat luas hingga ke luar wilayah. Apresiasi menjadi adaptasi dan akulturasi masyarakat
“Jadi, data lapangan dapat bermanfaat secara luas membawa kemajuan kebudayaan masyarakat lokal,” terangnya.
Ekosistem kebudayaan itu membawa berkah kemajuan, berkembang dan menambah kekayaan data yang terus hidup dan berkembang. Mendapatkan data baru yang unik dan penting dan terus termanfaatkan masyarakat lokal.
“Jika tidak ada kemajuan terkait kegiatan yang telah dilakukan, maka Dipertanyakan kembali Data kemajuan itu bermanfaat atau tidak? Penting dan dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah dan instansi terkait lainnya,” ulasnya.
“Mari memutahiran data. Pertama dapat meningkatkan kesejahteraan Warga. Kedua, membangun karakter, ketiga meningkatkan ketahanan budaya, keempat, meningkatkan kolaborasi antar budaya.dan semuanya terlindungi dari Pasal 32, ayat 2, UU RI No. 5 tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.” ajaknya.
Desa Budaya ini juga bisa mendampingi dan memperkuat pengembangan industri peningkatan ekonomi sektor pariwisata. Cara kerja ini jelas tetap membutuhkan penguatan identitas budaya dengan penggalian potensi daerah. “Itulah salah satu pentingnya temukenali.” tuturnya.
Pengumpulan data dengan warga, pelaku budaya, narasumber harus ada tindak lanjut dan membawa dampak positif pada pelaku budaya dan narasumber tersebut. “Melalui Media Promosi video atau digitalisasi, menarik dan menviralkan sebagai daya tarik banyak pihak untuk membantu semangat bergotong royong dan atau kunjungan.” pungkasnya. (rud)
















