Oleh Rizal Marajo
Kabar duka itu diterima, mantan pemain dan pelatih Semen Padang FC, Syafrianto Rusli meninggal dunia, Kamis (18/5) siang. Tumor yang menggerogoti pita suaranya, menjadi penyakit dan penyebab yang membawa pria 61 tahun itu kembali ke pangkuan-NYA.
Innalillahi Waina Ilaihi Rojiun
Pria itu sejatinya seorang legend, kelahiran 11 Maret 1962 di Lintau Buo, Tanah Datar. Di persepakbolaan Sumbar tak ada yang tak mengenal Syafrianto Rusli. Semuanya, tua muda memanggilnya Capt (baca Kep), artinya kapten.
Itulah panggilan akrabnya di tengah-tengah pelaku sepakbola Sumbar sampai ajal menjemputnya. Karena semasa jadi pemain dia memang adalah seorang kapten legendaris tim PS.Semen Padang era Galatama tahun 1980-an.
Jebolan SMA Diklat Ragunan itu sudah berkibar di PS Semen Padang ketika menjuarai Divisi I Galatama. Dia satu generasi dengan pemain-pemain semacam Idrus Ali, Suranto, Arief Pribadi, Aprius, Muharman, Dahlan, Hamdani, Ramlan, Hendra Pilo, dan lain-lainnya.
Dia kemudian mewarisi ban kapten dari Idrus Ali, sampai pada masanya di menepi, ban kapten itu beralih ke generasi dibawahnya; seperti Endra Mahyuni, Nilmaizar, Taufik Yunus, Maskur Rauf, Effendi Ibrahim, dan seterusnya.
Tapi luar biasanya, yang mendapatkan kehormatan sebagai “kapten abadi” Semen Padang FC hanya Syafrianto Rusli. Karena sampai akhir hayatnya hanya dialah yang disapa “capt” atau kapten. Yang lain jarang ada yang dapat kehormatan itu, kalaupun ada mungkin hanya Hengki Ardiles yang juga banyak menyebutnya capt sampai saat ini.
Pensiun sebagai pemain, dia memualai petualangan sebagai pelatih. Boleh dikatakan dia adalah pioneer bagi para mantan pemain Semen Padang yang merintis karir sebagai pelatih. Dia paling senior, dan boleh dibilang sangat sukses.
Jejaknya diikuti oleh para yunior-nya yang rata-rata pernah menjadi asistennya, sebut saja yang paling berkibar di dunia kepelatihan dan sudah berkecimpung di sepakbola nasional, seperti Nilmaizar, Weliansyah, dan Delfi Adri.
Sebagai pelatih, Capt Syafrianto sjelas angat kompeten, berpengalaman, dan tentunya ditunjang Lisensi yang sangat memadai.
Dia tercatat satu dari sedikit pelatih sepakbola asal Sumbar yang sudah memegang lisensi pelatih tertinggi di Indonesia, yakni AFC Pro Diploma. Nama lainnya adalah Nilmaizar, Emral Abus, dan Indra Sjafri.
Pria ini juga pernah menjajal dunia futsal, sebagai pelatih tim Futsal Sumbar di PON 2012 di Riau. Hasilnya, tinta emas ditorehkan dengan meraih medali emas untuk Sumbar di ajang multi iven nasional itu.
Di sepakbola konvensional, dia juga pernah bertualang sebagai pelatih sejumlah klub, seperti PSPS Pekanbaru, PSP Padang, dan tentu saja Semen Padang FC. Dia juga pernah menjadi pelatih tim sepakbola Sumbar di PON 2004 Palembang, dengan capaian lolos ke semifinal.
Selain itu, dia punya kelebihan tersendiri dari pelatih-pelatih lain. Karena dia juga mampu dan kompeten sebagai seorang instruktur pelatih. Dia kerap dipanggil PSSI untuk memberi kursus kepelatihan kepada pelatih-pelatih muda di berbagai daerah.
Terlepas dari itu semua, bagi saya Syafrianto Rusli adalah pribadi yang menarik. Dia teman diskusi yang hangat kalau sudah bicara sepakbola dan futsal, walau terkadang dia terlalu gigih mempertahankan argumennya.
Dan juga, kadang terlalu keras dengan konsep-konsepnya. Tapi tidak masalah, itu tandanya dia sosok pelatih yang punya prinsip kuat, sangat percaya diri, dan tidak gampang didikte. Selebihnya, dia adalah orang baik, sangat taat, dan terkadang juga humoris.
Selamat Jalan, Capt
Teruslah ke surga-NYA… Aamiin. (*)
















