Prokabar.com – Mantan Wakil Presiden Indonesia 2004-2009 Jusuf Kalla sebut Sumber Daya Manusia Minangkabau alami kemunduran.
Hal itu disampaikannya saat menyampaikan pidato HUT Sumatera Barat ke-77 di Padang, Sabtu (1/10/2022).
Dia mengatakan dahulu orang Minang sangat terkenal dengan pemikiran-pemikirannya.
Sehingga, banyak tokoh-tokoh nasional berasal dari Minangkabau.
“Orang Minangkabau keutamaannya adalah berfikir.”
“Mereka bekerja dengan otak tidak dengan otot dan hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh Minangkabau menjadi tokoh nasional.”
“Namun saat ini sudah berkurang,” kata Jusuf Kalla.
Lebih lanjut, ia mengatakan hal itu selaras dengan perkataan Soekarno yang pernah berucap berfikirlah seperti orang Minang, berbicara seperti orang Batak dan bekerja seperti orang Jawa.
Sumbar mampu melahirkan tokoh-tokoh yang berperan penting untuk bangsa seperti Hatta, Sjharir, yamin, M Natsir dan lainnya.
“Sebagian besar mereka adalah tokoh yang menjadi pelopor kemajuan bangsa ini,” ungkap Jusuf.
Selanjutnya, dia menjelaskan perbedaan orang Minang dengan Bugis pada zaman dahulu.
Pada tahun 1921 Minang telah melahirkan seorang doktor yakni M Djamil.
Sementara di Sulawesi Tenggara orang baru menjadi sarjana pada tahun 1949.
Ada perbedaan jarak waktu 30 tahun soal pendidikan dengan Bugis Sulawesi.
Hal ini menandakan lebih majunya pendidikan di Minang dibanding daerah lain.
“Bahkan guru-guru dari Minang ini dulu dikirim ke seluruh daerah untuk meningkatkan pendidikan bangsa.”
“Salah satunya mertua saya yang dikirim sebagai kepala sekolah Muhammadiyah ke Makassar,” terangnya.
Kemunduran Pemuda Minang
Kemudian, dia menjelaskan perbedaan pemuda Minang zaman dulu dengan sekarang.
Zaman dulu, setelah makan di rumah, pemuda Minang langsung menuju ke surau.
Di sana mereka mempelajari tentang agama, silat dan lainnya.
Sehingga, rasa persatuan mereka di surau itu kuat.
“Ini yang membuat mereka bertahan hidup dengan berdagang dan menjadi semakin kuat sehingga memunculkan dunia usaha yang baik,” tuturnya.
Sementara, pemuda Minang saat ini justru lebih sibuk menonton televisi di rumah.
Tak ada lagi mereka yang berkumpul di surau-surau.
Tak hanya itu, dulu pada tahun 1960 dari 10 masjid yang melaksanakan shalat Jum’at di Jakarta, delapan dari 10 masjid itu khatib Jum’at berasal dari Minang.
Begitupun, yang mengislakan orang Bugis juga orang Minang.
Berbeda dengan sekarang, dulu orang belajar agama ke Thawalib Padang Panjang.
Sementara saat ini orang-orang ke Padang Panjang hanya untuk pergi makan sate.
Justru orang Minang malah belajar agama ke gontor dan pulau Jawa.
Terakhir, Jusuf Kalla menitip pesan ke Gubernur Sumatera Barat.
Dia ingin Minang yang sekarang bisa kembali seperti Minang yang dulu.
“Pak Gubernur perlu suatu upaya memajukan kembali tingkatkan pengetahuan keagamaan dan mampu kembalikan marwah orang Minang dalam urusan agama Islam.”
“Ada suatu degradasi dari sisi pendidikan keagamaan yang perlu diperbaiki di sini, ini tentu jadi perhatian,” tutup dia.
















