Maninjau, Prokabar – Gema Takbir berkumandang mengisyaratkan Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah sudah masuk. Sejumlah pemuda di masing-masing jorong di Nagari Maninjau telah bersiap-siap memainkan perannya. Menghibur perantau dengan Tradisi Rakik-rakik Maninjau, Minggu, (1/5).
Pada Idul Fitri 2022 ini, dari lima jorong hanya empat unit rakik-rakik yang terlihat mengikuti tradisi ini. Satu jorong lagi, masih dalam proses pembuatan.
“Alhamdulillah, meski dengan perjuangan yang sangat keras dan sulit, akhirnya kesungguhan ini membuahkan hasil dari pemuda Maninjau. Keterbatasan biaya dan tenaga, tidak menjadi alasan untuk tidak melestarikan budaya dan karya seni rakit-rakit ini,” ungkap Romi Pasla, Ketua Pemuda Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Rabu (4/5).
Hakikiatnya, perjuangan membuat rakit-rakit tidaklah mudah. Butuh tenaga tenaga, pikiran hingga mencari dana untuk yang cukup besar untuk memenuhi segala kebutuhan. Diawali mencari batung atau bambu untuk meriam tomong, bambu perangkai rakit-rakit, obor puluhan botol, hingga beragam plastik hias lainnya. Belum lagi sewa papan untuk lantai, mesin kapal dan bensin yang puluhan liter.
“Pembuatan rakik-rakik diawali mencari meriam bambu di atas perbukitan yang sangat jauh mendaki melintasi tebing curam. Kemudian dilanjutkan dengan pencarian bahan lainnya yang masih berhubungan dengan alam,” lanjutnya.
Tradisi Rakit-rakit ini sudah ada sejak dahulu kala. Dan menjadi kebutuhan masyarakat, pemuda dan perantau yang pulang kampung. Pada Puncak Acara malam Tradisi Rakik-rakik, ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan atraksi Rakik-rakik di Tapian Panyinggahan. Sampai petugas kepolisian setempat, kesulitan mengatur parkir lalulintas. Lokasi atraksi berada di pinggir danau dan strategis untuk menyaksikan langsung penampikan rakik hias pemuda lima jorong.
“Kebahagiaan kami adalah disaat perantau pulang, bisa menikmati keindahan karya seni rakik-rakik ini. Dan membuat mereka senang dan bahagia. Kerinduan kampung halaman terobati dengan Tradisi Rakik-rakik ini. Kesan ini jelas akan selalu menjadi obat rindu dan memberi kesan terindah saat hendak kembali merantau,” tenangnya.
Sementara itu, Suar Amadi salah seorang perantau bersama belasan perantau lainnya mengatakan sangat bahagia bisa melihat kampung halaman. Setelah sekian lama merantau dan dua tahun tertunda pulang kampung akibat pandemi covid-19, akhirnya bisa sampai di Jorong Bancah Nagari Maninjau, Kabupaten Agam.
“Kami sekeluarga mencapai 50 orang dari Sitiung, Dharmasraya pulang kampung bersama tahun 2022 ini. Dan pulang kali ini terlengkap dan terbanyak berkumpul di rumah gadang keluarga besarnya,” tuturnya.
“Kami sangat puas dan bahagia. Kelengkapan keluarga besar ini disambut meriah atraksi rakik-rakik. Dan kami melihat kali ini dikelola Pokdarwis Riak Danau. Hasilnya sangat heboh dan luar biasa. Kami juga senang juga ikut berpartisipasi,” tutupnya. (rud)
















