Jakarta, Prokabar – Maskapai bermerek Lion Air kembali berulah, selama ini pesawat berlogo Singa ini adem ayem. Namun Minggu sore kembali membuat resah, betapa tidak ratusan penumpang dari Jakarta menuju Padang memaksa untuk turun dari dalam pesawat karena tak kunjung diberangkatkan.
Penumpang memilih turun dari badan pesawat karena panas sebab pendingin udara di dalam pesawat kurang memadai.
Ficky salah seorang penumpang tujuan Padang ini mengaku sejak menunggu di ruang tunggu sudah kecewa. Jadwal penerbangan yang dijanjikan maskapai pada pukul 15.00 WIB gagal berangkat karena pesawat yang membawa penumpang menuju Bandara Minangkabau baru saja mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Hal tersebut tidak menjadi masalah bagi sebagian penumpang.
Lebih kurang 60 menit delay dari jam yang disampaikan oleh pengelola bandara, akhirnya penumpang dengan kode penerbangan JT 354 dihimbau untuk segera menaiki pesawat.
Ficky juga menjelaskan, 20 menit setelah menunggu di atas pesawat namun pesawat tak kunjung juga diterbangkan. Dari sumber suara mengaku seorang pilot menyebutkan pesawat belum bisa diterbangkan karena menunggu dokumen penerbangan yang belum diterima pilot.
Karena ketiadaan kejelasan akan kepastian keberangkatan, sebagian besar penumpang memilih turun dari atas pesawat karena panasnya suhu yang ada di dalam pesawat.
Hal yang sama juga diakui Febrian, salah seorang kuli tinta yang juga menumpang di pesawat Lion Air JT 354 tersebut, Rian yang juga kena delay sejak ia terbang dari Lombok Nusa Tenggara Barat.
“Sejak dari Lombok Lion memang sudah delay dua jam pula, sekarang sudah delay tambah pula tertahan dalam pesawat hingga 1 jam, ngak profesional sekali sebagai pelanggan saya kecewa,” ucap Rian.
Rian juga sesalkan lambatnya informasi yang diberikan oleh kru pesawat akan alasan keterlambatan pesawat, hal ini diperparah dengan pendingin dalam ruang pesawat yang kurang. “Kasihan anak anak, kepanasan mereka di dalam,” tutup Rian.
Hal yang sama juga disayangkan Rio, penumpang Lion JT 354, keluhan akan delay ini harusnya menjadi perhatian serius dari kementerian perhubungan, agar hal yang sama tidak terulang kembali. (vky)
















