Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

4 Fakta Tentang Lubang Jepang Sungai Limau yang Terabaikan

Dibaca : 2.4K

Akibat tergerus waktu, kini Goa atau Lubang di Nagari Kuranji, Sungai Limau Kabuparen Padang Pariaman tak ubahnya seperti gorong-gorong tempat persembuyian ular. Goa yang memiliki panjang 30 meter ini padahal saksi sejarah yang telah terlupakan.

Dan inilah 5 Fakta tentang monumen yang bersejarah yang dirangkum oleh Prokabar :

1. Terdapat 8 Kamar Ruang Istirahat

Rekayasa lubang dahulunya difungsikan sebagai tempat persembunyian sekaligus posko utama penjajah Jepang di daerah. Dalam Lubang, terdapat 8 kamar sebagai ruang istirahat.
Salah satu warga yang tinggal di daerah sekitar, Zainal Arifin menyebut kondisi lubang peninggalan penjajahan Jepang sudah ada sekitar tahun 1946. Kamar tersebut dijadikan para pejuang untuk melepas lelah sekaligus bersembunyi kala berhadapan dengan Nippon

2. Tempat Favorit Bermain dan Belajar

Sementara tokoh pemuda di Sungai Limau, Syafrial mengungkap dahulunya, tahun 1980-an dan 1990-an, lobang ini dijadikan sarana belajar dan bermain kala kemerdekaan telah diraih. Lokasi yang berada 100 meter dari pasar Sungai Limau menjadi tempat favorit bermain sambil belajar.

Apalagi suasana perbukitan dengan pemandangan indah yang menghadap laut, ditambah banyak buah-buahan dan pepohonan nan rindang, membuat anak-anak betah berlama-lama di goa itu.

3. Gempa 2009 Akibatkan Kondisi Goa Bergeser

Namun sejak Gempa 2009, kondisi lubang mulai merosot akibat getaran dan pergeseran tanah. Lokasi dianggap tidak layak dan terlihat membahayakan, sehingga pengunjung takut dan berkunjung.

Sekretaris Nagari Kuranji Hilir, Al Muktadir mengatakan, Pemerintah Nagari telah berusaha maksimal agar lokasi dapat termanfaatkan dan peningkatan perekonomian masyarakat. Hanya saja kendala yang dihadapi persoalan lahan masih rancu dan bermelut beberapa pihak.

4. Sengketa Lahan dua Suku

Pembenahan terhadap Goa Jepang tak hanya persoalan bencana gempa, namun juga kemelut antar dua suku atas pemanfaatan lahan.

“Kami telah berupaya menfasilitasi antara pihak Suku Koto dan Suku Sikumbang. Dahulunya tanah tersebut sempat dibeli orang bersuku Koto, namun belum diketahui batas-batas wilayahnya. Lahan tersebut adalah Pusako tinggi kaum Sikumbang, karena perjanjian jual beli atau paga bali maka sebagian lahan telah menjadi milik dari seorang bersuku Koto,” pungkasnya seraya mengatakan plang belum dapat dipasang akibat sengketa lahan yang masih berlangsung.

Diharapkan kedepan adanya peran Niniak Mamak, Pemerintah Nagari, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menuntaskan persoalan. Terlebih, lokasi yang berada diatas perbukitan, menjadi andalan kunjungan wisata akan Cagar Budaya. Ditambah pemandangan nan indah yang menghadap laut, disertai Edukasi sejarah menjadi daya tarik tersendiri dari lokasi tersebut. (rud/ina)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top