4 Bulan 4000 Kali Letusan, Ketika Harapan Ribuan Petani Disapu Abu Vulkanik Marapi

Penulis -

Senin, 1 April 2024 - 22:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lahan pertanian di Paninjauan terdampak abu vulkanik Marapi

Lahan pertanian di Paninjauan terdampak abu vulkanik Marapi

Oleh: Rizal Marajo

Lewat tengah malam, dentuman bergema membuat kaca-kaca rumah bergetar. Setelahnya disusul bunyi gemuruh yang menakutkan, cukup lama dan membuat cemas warga. Di kegelapan malam tak jarang terlihat pijaran api memerah di puncak Gunung Marapi.

Itulah kondisi menakutkan yang sudah menjadi “makanan” sehari-hari masyarakat di sekitar Gunung berketinggian 2891 dpl itu. Kondisi yang selama 4 bulan terakhir menjadi pemandangan sehari-hari yang mereka lihat dan alami.

Belum pernah ada gunung yang berlokasi di teritorial Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam itu, menunjukan aktivitas vulkanik yang begitu lama dan awet seperti sekarang.

Seperti biasa, besok pagi mereka akan melihat debu-debu vulkanik atau kapundan itu sudah memenuhi halaman dan atap rumah, jalan-jalan, dan tentunya lahan-lahan pertanian mereka. Tak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah.

Tercatat, setidaknya sebanyak 5.115 KK petani pemilik lahan 1.514 ha di Tanah Datar, Sumbar, gagal panen sejak gunung yang dikagumi dan sarat cerita mitos itu terus meletus.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Menurut catatan BMKG sampai hari Senin (1/4/2024) gunung itu sudah mengalami erupsi sebanyak 3.876 kali sejak pertama kali meletus 3 Desember tahun lalu. Sudah hampir 4000 kali. Kecamatan X Koto mengalami dampak terparah dari siraman kepundan yang dimuntahkan Marapi.

Salah satu Nagari paling menderita adalah Nagari Paninjauan, yang masyarakatnya 90 persen menggantungkan hidup pada pertanian, khusunya sayur mayur dan holtikultura.

Gagal panen karena debu vulkanik yang kian hari kian tebal membungkus apa yang ditanam petani, adalah hal yang sudah mereka “telan”, sejak musibah itu terjadi akhir tahun lalu. Petanyaannya kini, entah kapan Marapi akan berhenti meletus.

Sekarang petani di Nagari yang menjadi sentra penghasil sayur mayur dan holtikultura dengan kualitas terbaik di kawasan Padang Panjang dan X Koto itu kian merana.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar, lebih 2000 hektar lahan hortikultura di Tanah Datar “tertimbun” abu vulkanik sejak 4 bulan ini. Kondisi itu telah menghentakkan petani ke lantai kemiskinan, dengan kerugian ditaksir sekitar Rp40 miliar.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Sebagai wujud tanggungjawab Pemkab atas musibah yang menimpa warganya, melalui dana BTT Pemkab Tanah Datar telah disalurkan BLT uuntuk 3.545 KK yang terdampak. Itupun baru untuk tahap 1, sesuai data dari 3 Desember 2023 – 26 Januari 2024.

Masih ada sekitar 1.570 KK terdampak sesuai data setelah 26 Januari 2024 – akhir Maret yang belum dapat difasilitasi Pemda untuk mendapatkan BLT, karena keterbatasan anggaran daerah. Namun Pemkab yang dikomandoi Bupati Eka Putra, terus berupaya mencari dana.

Bupati Eka menyebut, dalam sekejap saja jumlah petani yang gagal panen, naik. Yang semula 3000an KK naik jadi 5000 KK dan hari terakhir terus meningkat hampir 7000 KK.

“Makin hari kian bertambah petani yang jadi korban, karena itu kami sangat memerlukan bantuan banyak pihak,” kata Sang Bupati.

Bagaimana tidak miris, ambil contoh di Paninjauan yang subur dan mengagumkan pertanian holtikulturanya, kini benar-benar lumpuh disapu kapundan. Sesayup mata memandang, yang terlihat hanyalah dedaunan sayur mayur yang memutih diterpa abu vulkanik yang seketika membuat tanaman layu, lalu hangus.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Berapa waktu lalu, aktivitas Marapi sempat mereda sekitar dua minggu. Hal ini membuat semangat para petani berkobar lagi. Lahan pun mulai menghijau, senyum kembali merekah, harapan panen terbayang di pelupuk mata.

Tetapi apalah daya, harapan yang mulai tumbuh itu kembali redup dalam seminggu terakhir. Marapi kembali marah, menumpahkan abu-abu yang melumpuhkan tulang belulang dan harapan para petani.

Justru volume letusan semakin tinggi. Jika semula tinggi kolom letusan masih kisaran 500-700 meter, sekarang justru naik pada kisaran ketinggian 1000 – 1500 meter dan makin sering.

Entah sampai kapan, “kemarahan” Marapi akan ditanggung masyarakat di daerah sekitar kaki-kaki Marapi. Entah sampai kapan, masyarakat Nagari Panyalaian, Paninjauan, Aie Angek dan lain-lainnya yang dihuni 7.068 KK terdampak itu berdomisili, bisa kembali ke ladang dengan semangat dan rasa bahagia mengolah lahan harapan meraka.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB