Dharmasraya, Prokabar – Dari 740 jumlah orang mantan anggota jaringan Organisasi Negara Islam Indonesia (NII) yang tercatat berdomisili di wilayah Dharmasraya, 391 orang diantaranya mengelar kegiatan pencabutan baiat masal di Gedung Auditotium Kantor Bupati Dharmasraya, Rabu (27/4/2022). Kegiatan ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Ratusan orang yang mengikuti baiat ini mengikatkan pita warna merah putih melingkar di kepalanya. Mereka disumpah kembali untuk setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Secara bersamaan mereka mengucapkan yel- yel “NKRI harga mati, pancasila junjung tinggi”.
Pencabutan baiat ini dipandu langsung oleh mantan jaringan NII Ustadz Wawan yang berbunyi, mengakui bahwa pancasila UU 1945 tidak bertentangan dengan syariat Islam. Meninggalkan dan menjauhi segala bentuk dan paham yang bisa memecah belah NKRI. Setia dan patuh kepada Pansila dan UUD 1945. Dan setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usai mengucapkan sumpah dilanjutkan dengan penandatangan pencabutam baiat.
Hadir pada kesempatan itu Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, Kapolres Dharmasraya, AKBP Nurhadiansyah, Kapolda Sumbar, Irjen Pol Teddy Minahasa P, SH. S.Ik. MH, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Danrem 032/Wbr Brigjen TNI Purmanto, Ketua DPRD Dharmasraya, Pariyanto, dan undangan lainnya.
Kapolres Dharmasraya, AKBP Nurhadiansyah dalam sambutannya menyampaikan, sejak awal penangkapan 12 anggota jaringan NII oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 pada Jumat (25/3/2022) lalu, banyak masyarakat melapor ke pihak kepolisian. Masyarakat bingung lantaran 12 orang yang ditangkap ini aktif mengikuti pengajian dengan mereka.
“Setelah kita melakukan penelusuran dan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah. Kami sepakat mereka ini adalah korban dari orang orang yang memiliki tujuan tertentu,” terangnya.
AKBP Nurhadiansyah mengaku, dirinya bersama Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan sepakat menggelar kegiatan cabut baiat mantan anggota NII.
“Dari cacatan pihak kepolisian jumlah mantan anggota NII 740 orang. Hari ini yang ikut cabut baiat 391 orang. Selebihnya ada yang merantau ke luar Dharmasraya dan juga masih usia anak-anak. Bagi yang belum hadir pada hari ini akan dilanjutkan cabut baiat dikemudian hari,” terang kapolres sembari manambahkan, untuk pengamanan acara cabut baiat masal mantan anggota NII ini diterjunkan 250 orang personil gabungan, polisi, TNI, Pol PP dan Dishub.
Kemudian Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengajak peserta baiat dan semua pihak agar selalu menjaga kekompakan dan kerukunan serta selaturahmi. Bentengi diri agar tidak terpengaruh dengan hal hal yang bisa merugikan diri sendiri, keluarga dan daerah.
“Semoga niat baik kita pada hari ini diridhoi Allah SWT,” katanya.
Sementara itu, Kepala Ďatasemen Khusus (Densus) 88 Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si menyebutkan, bersyukur acara tersebut bertepatan pada bulan suci ramadhan. Menurutnya, kegiatan cabut baiat kali ini merupakan yang terbanyak dan terbesar.
“Terimakasih atas kebijakan dan respon positif pemerintah terhadap peristiwa yang terjadi. Kejasama dan respon semua pihak dengan Densus 88 menghasilkan hal yang luar biasa. Kami sebagai penegak hukum hadir sebagai anak bangsa yang mencitai negeri ini, negara ini dan sesama kita. Kami hadir dengan cinta dan asih, hadir berdiskusi untuk bersama sama membangun negara Republik Indonesia ini,” sebutnya.
Menurutnya, membangun negara ini harus diawali dari diri sendiri, menjadi polisi bagi diri sendiri. Sehingga akan tercipta keamanan serta kanyaman.
“Kehadiran kita disini pertanda kita sama- sama cinta dengan NKRI,” pungkasnya.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengatakan, masyaralat minang suka dengan kebersamaan. Ini ditandai dengan kehidupan masyarakat terbiasa dengan musyawarah.
“Barangkali karena ketidaktahuan saudara saudara kita ini mereka terjebak dengan hal yang sebenarnya mereka tidak tahu. Saya yakin pada pemilu kemarin saudara saudara kita ikut menggunakan hak pilih karena cinta dengan NKRI,” katanya.
Sementara itu, salah seorang anggota jaringan NII yang mengikuti kegiatan cabut masal baiat AN (28) mengaku kanget ketika dirinya tercatat didalam jaringan NII. Ia mengenang diawal ketika sejumlah orang bertamu ke ruamahnya pada tahun 2019 lalu. Tamu tersebut mengajarkan dirinya tentang tata cara salat yang baik sesuai syariat islam dan ajaran baiknya lainnya.
“Tamu itu datang cuman sekali. Tidak mengajarkan hal-hal yang melanggar hukum, apalagi sampai mengajak akan menjatuhkan kepemimpinan negara ini. Saya tidak tahu tamu yang datang itu adalah jaringan NII, karena dari penampilan dan cara mereka berdialog sangat sopan. Ketika saya tercatat dalam jaringan NII, saya kanget dan dirundung ketakutan, cemas dan stres. Alhamdulillah sekarang saya sudah lega karena sudah dilakukan pencabutan baiat,” pungkasnya.
Hal serupa juga disampaikan, G (32). Katanya, pada tahun 2018 lalu didatangi tamu dan mengajak ngobrol tentang agama islam, serta pernah diajak satu kali mengikuti pengajian, hanya satu kali, setelah itu tidak pernah hingga sekarang. Ketika mengikuti pengajian tersebut disodorkan absen nama.
“Takut, cemas, sedih bercampur jadi satu ketika saya dinyatakan tergabung jaringan NII. Ditambah lagi NII terduga teroris. Sempat mau kabur, tapi niat itu saya batalkan karen ingat anak dan istri. Alhamdulillah sekarang saya lega karena sudah dilakukan pencabutan baiat,” pungkasnya. (*)
















