Padang, prokabar – Salvatore ‘Toto’ Schillaci tiba-tiba melambung namanya di Piala Dunia 1990 Italia. Selama empat pekan Piala Dunia di kampungnya, Toto jadi buah bibir. Bahkan, dia melejit menjadi top skor dan pemain terbaik turnamen,
Padahal sebelum Piala Dunia, dia bukan sosok populer. Dibanding nama-nama besar Timnas Italia saat itu seperti Gianluca Vialli, Roberto Mancini, Giuseppe Gianinni, Paolo Maldini, Franco Baresi, ataupun Roberto Baggio, jelas Toto tak ada apa-apanya.
Dia belum pernah mencetak gol untuk Italia sebelum Piala Dunia FIFA 1990. Lucunya, setelah Piala Dunia 1990 itu, dia hanya berhasil mencetak satu gol internasional untuk Italia.
Akan tetapi, selama empat pekan itu striker yang tampaknya biasa-biasa saja ini menjadi superstar global. Begitu dia berjuang masuk ke dalam skuad pemain Azzurri, setelah memulai turnamen sebagai pemain pengganti, dia mencetak gol di setiap pertandingan.
“Ketika Anda seorang pemain sepak bola, ada saat-saat ketika semuanya berjalan untuk Anda. Yang harus Anda lakukan hanyalah bernapas dan bola masuk ke gawang. Saya hanya dalam keadaan beruntung.”katanya.
Dan sementara golnya melawan Argentina di empat besar tidak cukup untuk membawa tuan rumah maju ke final, masih ada waktu untuk satu kegembiraan terakhir.
Itu terjadi di perebutan tempat ketiga, ketika, dengan Inggris menahan mereka untuk bermain imbang 1, Schillaci membuat Italia mendapatkan penalti di menit akhir.
Roberto Baggio adalah pengambil penalti yang ditunjuk tim, tetapi menyerahkan bola kepada rekan penyerangnya, dengan mengatakan: ‘Kau ambil penaltinya an kau bisa menjadi pencetak gol terbanyak.’kata Baggio.

Toto, tentu saja tak melewatkan hal itu dan dia berhasil mengecoh Peter Shilton dengan arah yang salah. Gol itu membawa Toto melewati Thomas Skuhravy di puncak top skor turnamen dengan enam gol.
Sebagai ganjaran, bukan hanya adidas Golden Boot sebagai pencetak gol terbanyak di Italia 90 yang dikantongi Schillaci. Dia juga membawa pulang penghargaan Bola Emas, telah diakui sebagai pemain terbaik turnamen, dan dengan cinta abadi suatu bangsa.
Seperti yang dia katakan kepada FIFA bertahun-tahun kemudian: “Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang terjadi pada saya. Saya pikir ‘siapapun di atas sana’ baru saja memutuskan bahwa Toto Schillaci akan menjadi pahlawan seluruh Italia.”
Namun, Toto merasa sangat terpukul Italia gagal juara dunia di rumah sendiri. Kegagalan itu juga yang membuat Schillaci, menurut pengakuannya, dia menghabiskan waktunya dengan merokok dan menangis hampir sepanjang hari.
Bahkan dengan senang hati, Schillaci mengaku bersedia andai gelar Pemain Terbaik yang didapatkannya ditukar dengan trofi Piala Dunia keempat bagi Italia.
Nama Schillaci barangkali takkan seharum Giuseppe Meazza, Luigi Riva atau Paolo Rossi yang jadi sukses mematri namanya sebagai penyerang legendaris Italia.
Tapi empat pekan gemilang di musim panas 1990 itu bakal selalu dikenang publik sepak bola dunia sebagai momen di mana Schillaci muncul sebagai bintang utama di turnamen sepak bola antarnegara paling bergengsi di jagad raya.(*)
















