Agam, Prokabar – PEH atau Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra melakukan monitoring ke habitat terbanyak dan terbesar Rafflesia tuan-mudae di Jorong Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Agam, Sumbar, Sabtu siang (26/1). Selain bertujuan memastikan keberadaannya tidak terganggu aktifitas manusia, juga menghitung jumlah Rafflesia yang tumbuh di sana.
“Saat ini, total jumlah umbi atau knop Rafflesia tuan-mudae yang sudah ditemukan di sini sebanyak 46 knop. Dan hari ini kita menemukan 2 knop bunga langka tersebut mulai tumbuh,” terang Ade.
Sebelumnya, di sini juga pernah ditemukan Rafflesia tuan-mudae terbesar di dunia dengan diameter 107 centimeter. Mengalahkan temuan Rafflesia jenis Arnoldii di Filipina berdiameter 100 centimeter.
Jarak lokasi ke perkampungan masyarakat sangat dekat. Hanya sekitar 2 kilometer. Oleh sebab itu, lokasi tersebut harus selalu di jaga dan dilindungi. “Kami juga selalu berkoordinasi dengan masyarakat setempat, agar selalu menjaga lokasi yang masuk di kawasan Hutan Cagar Alam Maninjau ini. Apalagi lokasi tersebut juga sumber air bersih masyarakat,” tuturnya.
Sesuai Undang-undang Nomor 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati dan Ekosistem, setiap orang dilarang mengambil, menebang, memiliki merusak, mengambil, menangkap, mengangkut, mengeluarkan dan memperniagakan tumbuhan atau satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati. Bila ada manusia yang melanggar peraturan tersebut akan dijerat pasal 21 ayat 1 dan ayat 2, dengan ancaman hukuman 5 tahun kurungan penjara dan denda Rp100 juta.
“Kami dari BKSDA Provinsi Sumatra Barat, melalui Resor Agam di 2019 ini, juga berencana menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat atau stasiun penelitian dan pendidikan konservasi bagi perguruan tinggi atau pelajar yang ingin menggali bunga langka tersebut,” pungkas Ade. (rud)
















