​Sejuta Perantau, Sejuta Rindu Tumpah di Ranah Minang

Penulis -

Kamis, 29 Juni 2017 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukittinggi, Prokabar – Pesawat, mobil dan motor pembawa sejuta rindu sejuta perantau pulang ke Ranah Minang, satu persatu kembali berbalik. Mereka membawa anak dagang ke negeri orang. Tahun depan Insya Allah kembali pulang.

Dan pesawat airbus milik Garuda Indonesia itu telah landing di BIM, ratusan orang naik. Di sana juga ada Cap dan istri serta dua anaknya. Diantar nenek dan kakek serta Pakngahnya sampai selasar. 

Si cucu menyalami kerabatnya. Pautan rindunya, teraju ayah bundanya.

Di rumah-rumah batu, rumah kayu tua terawat, di lapau, masjid terlihat orang ramai. Lebih ramai kalau di pasar. Rantau jauh rantau sudut dapur. Tak merantau juga ada. Semua menumpahkan rindu satu sama lain. Juga ada yang tak rindu.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Di beberapa daerah perantau membantu kampung halaman. Membangun rumah untuk orang miskin, membuat jalan dan entah apalagi.

Perantau pulang bagi orang Minang berbeda dengan daerah lain. Peristiwa ini punya hentakkan pada lantai kebudayaan. Hentakkan itu jadi bunyi, jadi irama. Irama itu menjadi refren Ranah Minang berbilang tahun lamanya.

Jadi lagu

Rindu orang rantau pada kampung dan sebaliknya bagi orang Minang digubah jadi lagu. Awalnya pantun. Lagu-lagu itu nyaris mendominasi industri rekaman di daerah tersebut. Produknya dijual di seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Industri rekaman di daerah tersebut menerima lagu-lagu soal emosional rantau itu dari pengarang lokal yang produktif.

Fenomena lagu ranah dan rantau itu yang melampaui prediksi tak lain, “Teluk Bayur” pelantunnya Ernie Djohan.

Sehebat apapun lagu  hampir serupa yang dibuat kemudian baik dengan latar terminal bus bahkan bandara, tak bisa menandangi “Teluk Bayur”

Sedikit liriknya:

//Selamat tinggal Teluk Bayur Permai

Doakanlah daku cepat kembali//

Tapi sekarang pelabuhan alam itu sepi. Meski sepi,   dianya telah menyumbang romantisme pada budaya urang awak.

Ransel

Merantau satu ransel Pulang banyak koper. Itu banyak terjadi. Satu ransel, isinya pakaian dan surat-surat. Naik bus ke Jawa atau Batam. Tenggelam di sana bertahun-tahun. Pulang bawa istri atau suami dengan banyak koper. Atau tak kunjung pulang.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Romantisme lain dalam lagu Minang adalah bujang merantau ditunggu kekasih di kampung. Sulitnya transportasi dan komunikasi kala itu, maka percakapan dilakukan lewat surat. Surat-surat itulah kemudian bocor satu demi satu lalu dikisahkan pada orang lain dan lantas jadi kisah hebat negeri matriakat itu.

Lalu kini tatkala jempol bisa masuk neraka ulah mengetik-ngetik juga, pesan bisa dikirim secepat kilat. Lalu lintas orang kemanapun juga bisa cepat, maka romantisme itu kian hambar. (rizal)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB