​Menikmati Panorama Kelok Sembilan di Jalur Mudik Sumbar – Riau

Penulis -

Rabu, 28 Juni 2017 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukittinggi – Mudik Lebaran sambil menikmati objek wisata alam mungkin sudah lazim di banyak tempat. Tetapi menikmati keindahan arsitektur dan konstruksi rumit di belantara hutan dengan keindahan panoramanya belum tentu mudah ditemui.
Dari yang sedikit itu, keindahan Jembatan Kelok Sembilan dengan panorama alam hutan Bukit Barisan mungkin salah satu yang patut disyukuri.

Iya, pemudik yang melewati Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) – Riau, pastinya akan dimanjakan dengan panorama cagar alam dan gunung-gunung, dan tentu saja kontruksi jembatan yang kokoh itu. Pemudik, umumnya dari Pekanbaru dengan tujuan Bukittinggi maupun Padang, bakal langsung disambut keindahan jembatan yang mulai dibangun sejak 2003 dan selesai pada 2013 itu.

Terutama pengguna kendaraan roda dua dan roda empat. Memakan empat jam perjalanan dari Pekanbaru, Jembatan Kelok Sembilan memang jadi alternatif terbaik untuk transit melepas penat.

Ade (26), warga setempat mengakui, Jembatan Kelok Sembilan jadi tempat perhentian bagi pengguna jalan baik dari Pekanbaru, maupun sebaliknya dari Padang atau Bukittinggi.

Pengguna jalan, hanya berhenti sesaat untuk swafoto, istirahat minum, atau hanya sebatas cuci mata menikmati pemandangan dan menghirup udara sejuk Bukit Barisan.

“Biasanya ramai, apalagi mau Lebaran. Dari Pekanbaru [tujuan Sumbar] ramai sekali,” katanya, minggu lalu. 

Dia mengatakan, sejak jembatan layang tersebut dioperasikan untuk umum pada 2013, maka pengguna jalan memanfaatkannya untuk istirahat. Apalagi posisinya juga berada dekat perbatasan Sumbar – Riau, atau bisa dibilang setengah perjalanan bagi pengendara dari Pekanbaru maupun dari Padang.

Jalan Berkelok

Sebenarnya, nama Kelok Sembilan merujuk jalan berkelok-kelok melewati perbukitan di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

Jalan itu, jika direntang lurus hanya sepanjang 300 meter dengan lebar jalan 5 meter yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda pada 1908-1914 untuk memperlancar transportasi dari Pelabuhan Emma Haven [Teluk Bayur] di barat Sumatra ke wilayah timur.

Namun, seiring berkembangnya waktu, jalan itu tak mampu lagi menampung volume kendaraan yang melewati rute tersebut, sehingga kemacetan tak terelakan. Solusinya, diusulkanlah pembuatan jembatan layang menembus dua bukit yang mengapit jalan tersebut.

Maka pada 2003, dimulai pembangunan Jembatan Kelok Sembilan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (sekarang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dengan konsep green construction atau ramah lingkungan karena berada di wilayah cagar alam. Pembangunan jembatan dengan biaya Rp580 miliar itu dikerjakan dalam kurun waktu 10 tahun.

Jembatan Kelok Sembilan dibagi dalam enam buah jembatan dengan ditambah jalan penghubung sepanjang lebih dari 1,5 kilometer.

Untuk enam jembatan itu, masing-masing memiliki panjang yang berbeda. Jembatan pertama dengan panjang 20 meter, jembatan kedua 230 meter, jembatan ketiga 65 meter, jembatan keempat yang paling panjang 462 meter, jembatan kelima 31 meter, dan jembatan keenam sepanjang 156 meter.

Ikon Wisata

Jembatan itu memiliki lebar 13,5 meter, sehingga sangat luas bagi kendaraan yang melewatinya. Bahkan, di sisi jembatan juga diberi ruang yang cukup luas, sehingga pengguna jalan bisa parkir kendaraan.

Karena, Jembatan Kelok Sembilan sudah menjadi menjadi lokasi transit dan ikon wisata baru di kawasan itu, maka banyak pula masyarakat yang memanfaatkan momen itu untuk berdagang.

Maka jangan heran, jika Anda melewati jalur itu akan ditemukan banyak pedagang di sisi atas jembatan dari arah Riau. Mereka, menyediakan jagung bakar, es kelapa muda, dan makanan kecil lainnya.

Untuk mudik Lebaran tahun ini, pemerintah menyiapkan salah satu poskonya di kawasan Jembatan Kelok Sembilan. Pokso itu juga disediakan akan berat berupa dump truck, excavator, dan peralatan lainnya mengantisipasi bencana.

“Kami juga sediakan posko siaga di Kelok Sembilan untuk memastikan jalur Padang – Pekanbaru lancar selama mudik Lebaran,” kata Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) III, Syaiful Anwar saat memantau kesiapan jalur mudik lebaran di Sumbar, minggu lalu. 

Pantauan tim BPJN III ke lokasi itu menemukan sepanjang 205 kilometer ruas Padang – Bukittinggi – batas Riau dalam kondisi bagus.

Bahkan, kerusakan jalan akibat banjir dan longsor di Pangkalan awal Maret lalu, yang sempat menyebabkan akses Sumbar – Riau terputus, kini tak tersisa lagi, berganti hamparan aspal yang mulus. (rls)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Langkah Terhenti di Gerbang Jembatan Kembar
Gebyar Kader PKK di INS Kayutanam, Ny. Vanny Andree Algamar : Ajang Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Kreatifitas !
Ahmad Fadly, Pria Humble yang Makin Kesini Makin Mengalir
Eka Putra, Sang Petarung yang tak Tumbang oleh Covid 19 dan Galodo
Sisi “Kebapakan” Fadly Amran Dalam Membentuk Karakter Anak
Pilkada Pasaman Diwarnai Nasib Incumbent Di Ujung Tanduk
Pilkada Pasaman Dan Seni Berpolitik Benny Utama – Yusuf Lubis
4 Bulan 4000 Kali Letusan, Ketika Harapan Ribuan Petani Disapu Abu Vulkanik Marapi

Berita Terkait

Rabu, 24 Desember 2025 - 18:30 WIB

Ketika Langkah Terhenti di Gerbang Jembatan Kembar

Rabu, 9 Oktober 2024 - 19:42 WIB

Gebyar Kader PKK di INS Kayutanam, Ny. Vanny Andree Algamar : Ajang Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Kreatifitas !

Rabu, 2 Oktober 2024 - 23:15 WIB

Ahmad Fadly, Pria Humble yang Makin Kesini Makin Mengalir

Rabu, 25 September 2024 - 12:21 WIB

Eka Putra, Sang Petarung yang tak Tumbang oleh Covid 19 dan Galodo

Minggu, 18 Agustus 2024 - 13:18 WIB

Sisi “Kebapakan” Fadly Amran Dalam Membentuk Karakter Anak

Berita Terbaru