JAKARTA PROKABAR- Semen Padang di Indarung Padang, Sumbar sama dengan pabrik semen lain. Cuma saja jika sekarang serentak dibuat 3 pabrik serupa, maka orang-orang Padang itu siap menjalankannya.
Lainnya? Ini pabrik semen tertua di Asia Tenggara. Kala diprivatisasi dan digabung dengan Semen Tonasa dan Semen Gresik, seharusnya yang jadi induk Semen Padang. Lalu kenapa Gresik jadi induk? Karena salah seorang mantan dirutnya waktu itu jadi dirjen di departemen perindustrian. Dialah yang mengerdilkan Semen Padang. Kenapa? Ada masalah di hatinya.
Apalagi? Pabrik ini dibangun 1910 ketika itu tak ada pabrik serupa di Indonesia. Jadi Semen Padang bagian dari sejarah. Maka jangan heran, Jam Gadang, Monas, Jembatan Ampera dan Semanggi dibangun dengan Semen Padang.
Lalu? Ini adalah pabrik yang paling dekat dengan bahan baku. Bahan baku itu ada di tanah adat. Awalnya antara beli dan tak beli. Kontribusi masyarakat adat besar, sayang belakangan tuntutan mereka makin luas. Ini gara-gara Jakarta anggap enteng Padang.
Lalu? Pabrik ini hampir jadi besi tua, pusat tak peduli dan kemudian diselamatkan oleh pemerintah provinsi. Kalau tidak maka akan dijual sebagai besi tua ke Sico Franch, Prancis.
Selamat gaji karyawan sempat dibayar APBD provinsi setempat.
Apalagi? Trauma. Orang Sumbar trauma dengan tambang batubara Ombilin di Sawahlunto. Nasib tambang itu buruk dan masa depannya habis setelah digabung dengan PT Bukit Asam. Tinggal seorang GM di Sawahlunto. Semen Padang bisa begitu pula. Apalagi CSR nya Rp 32 miliar tiap tahun.
Itu saja? Ada bau-bau jawanisasi. Makanya anggota DPR Refrizal di Padang berkata “dirut Semen Padang harus orang Sumbar”
Primordial! Tonasa juga maunya begitu, Gresik juga. Apa bedanya.
Holding
Maka ketika akan habis masa jabatan Dwi Sucipto dua periode sebagai dirut Semen Gresik, ia menyahuti kehendak Menteri BUMN. Ia buat holding dan ia go internasional. Diakusisi pabrik semen di Vietnam. Holding tumbuh dengan baik.
Holding itu gunanya untuk memperbes aset. Ibarat telur, meletakkannya dalam satu keranjang. Maka kemudian tiga pabrik semen dipayungi holding namanya Semen Indonesia.
Semen Indonesia menghapus direksi litbang di semua anak perusahaan. Kini ada rencana menghapus direksi pemasaran. Dari sudut pandang holding itu sudah benar. Namanya saja holding.
Masalahnya kemudian, Semen Padang tak berdiri sendiri tapi bersama sejarah. Apalagi petinggi Semen Padang akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan perusahaan. Semen Padang kehilangan rasa. Padahal sudah terlanjur dianggap pabrik itu tidak bisa dipisahkan dari sejarah lokal.
Gampang saja. Kacamata kuda saja jalankan terus rencana Semen Indonesia, memang apa dampaknya? Pilpres besok kemenangan Prabowo akan makin gemuk. Jokowi kalah telak di Sumbar dan Sulsel. Pemprov akan uring-uringan masyarakat akan tiap sebentar protes. Ini masalah yang akan merusak pasar. Orang Minang tak mau Semen Padang dikebiri sebagaimana janji sebelum holding dibentuk.
Nah lalu? Tak tahulah. Tanya Andre Rosiade atau biarkan Andre berjuang dan bantulah.
Tulisan ini tanggung jawab penulis: Mhd Mustofa Karawaci
















