Lebaran, momen tahunan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Lebaran adalah puncak dari kemenangan, puncak melepas rindu, dan puncak dari kebahagiaan. Bagi kita sebagai makhluk sosial, tidak ada yang lebih indah dari berinteraksi. Kami, prokabar.com, menyadari bahwa lebaran adalah momentum dimana interaksi adalah yang paling hebat. Saling menyapa, bersalaman, berpelukan, dan berbagi adalah interaksi yang hebat itu. Berlandaskan itu, prokabar.com merancang platform interaksi di website kami. Melalui halaman "mudik yok" warganet disuguhkan beragam informasi yang bermanfaat. Ada info lalu lintas, info cuaca, cctv dan berita seputar mudik, termasuk destinasi wisata di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, prokabar.com juga menyediakan fasilitas "message" di sudut kiri bawah halaman web. Dengan fasilitas ini pengunjung bisa berbagi foto teks dan video. Lalu tim kami akan menayangkan informasi yang anda bagikan. Yang lebih heboh lagi, sepanjang libur lebaran, prokabar membuat lomba artikel dengan tema umum lebaran di Sumatera Barat. Hadiah totalnya Rp. 10 juta. Lomba ini terbuka untuk umum, termasuk perantau yang sedang pulang kampung. Prokabar mengajak warganet untuk berbagi informasi di prokabar.com. informasi anda akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Selamat Lebaran, sempurnakan pulang kampung anda bersama prokabar.com Salam Tim redaksi
Ekonomi

​Mengiris Nasib Petani Bawang Merah di Solok


Petani Sedang Memanen Bawang Merah di Bukit Cambai Kabupaten Solok



Solok, Prokabar – Sejauh mata memandang, Kecamatan Lembah Gumanti nan indah itu, dipenuhi oleh ladang ladang bawang merah. Petani menanam bawang merah karena dijanjikan untung yang menggiurkan.
Prospek bawang merah ini, diawali Bulan Desember 2016 silam. Saat kunjungan Menteri Pertanian ke Alahan Panjang. Kunjungan itu sengaja dilakukan untuk melihat potensi bawang merah. Menteri Amran Sulaiman takjub dengan daerah ini, karena sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi sentra bawang merah untuk memasok Sumatera.

Menteri memotivasi petani untuk meningkatkan produksi, dengan menambah lahan hingga 15 ribu hektar. Bahkan pemerintah menjamin, jika harga jual dibawah Rp. 15 ribu, pemerintah suap membeli hasil produksi petani. Sejak itu, lahan tidur pun disulap untuk ladang bawang.

Belum lagi merasakan nikmatnya hasil bawang merah, diawal tahun 2017, harga jual bawang malah merosot. Terendah harga jual sampai Rp 9 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Pemilih di Limapuluh Kota Kebanyakan Perempuan, Ini Kata Panwaslu

“Tidak mungkin petani bisa hidup, untuk pulang pokok saja, seharusnya harga jual bawang merah  Rp. 13 ribu,” kata hafis, salah satu petani bawang merah.

Tak tanggung tanggung, keluhan ini disampaikan ke Menteri Pertanian. Akhirnya petani bisa langsung bertemu dengan petani di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dari hasil pertemuan tersebut, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menginisiasi pertemuan untuk mencari solusi. Selanjutnya diadakan pertemuan antara petani, pemerintah Kabupaten Solok, Pemerintah Provinsi, Bulog, Kementerian Pertanian dan DPD.

Dalam pertemuan ini Wakil Bupati Solok, meminta pemerintah pusat serius mengatasi persolan ini. “Kami sudah berusaha untuk melakukan pengembangan lahan bawang merah, tapi jika kejadiannya begini saya takut masyarakat kehilangan kepercayaannya kepada pemerintah,” Ungkap Wabup Solok Yul Fadli Nurdin.

Baca Juga :  Innova Terjun Jurang, Dua Tewas, 9 Kritis

DPD RI yang langsung dihadiri ketua komite 2 dan anggota DPD RI asal Sumbar Nofi Chandra. “Kita dari DPD terus mengawal persoalan ini, karena ini demi kepentingan masyarakat luas,” Jelas Nofi yang juga putra asli Solok ini.

Sumatera Barat sebenarnya sudah surplus bawang merah. Kebutuhan Sumbar adalah 8 ribu ton. Sedangkan Sumbar sudah memproduksi 15 ribu ton. “Bawang merah Solok ini dikirim ke wilayah Sumatera, karena Sumatera masih minus 30 Ton per bulan,” Jelas Prihartoyo, salah satu direktur di Kementan.

Sementara itu Bulog yang mendapat perintah untuk membeli 2 ribu ton bawang merah di Indonesia, belum berani all out. “Kita main di bawang merah masih baru, untuk Solok kita membeli 22 ton dengan harga Rp. 15 ribu tapi kita hanya menjual Rp. 12 Ribu, rugi kami,” keluh Direktur Pengadaan bulog, Tri Wahyudi.

Baca Juga :  Tiga Hari Lebaran, Perantau Mulai Bergeser ke Riau

Bulog mengaku masih takut membeli karena belum pahan klasifikasi bawang merah tersebut. Ditambah belum ada kerjasama dengan kelompok tani.

Dari pertemuan tersebut disepakati akan membentuk tim monitoring bawang merah, yang terdiri dari seluruh unsur yang terlibat. Kemudian Bulog akan membeli seluruh bawang petani berdasarkan rekomendasi tim. Lalu Pemerintah pusat diminta untuk mengatasi bawang seludupan, yang diduga menjadi penyebab harga jatuh.

“Jika tim ini sukses, maka Solok bisa menjadi model untuk daerah lain, dalam mengatur distribusi dari hulu ke hilir,” Kata Ketua Komite II DPD RI, Parlindungan Purba.

Solok  sebagai sentra bawang merah, sudah bisa memproduksi 6 ribu ton bawang merah per bulan. (eda)

Berani Komen Itu Baik

To Top