Artikel

​Marapi Yang Bersih Gunung Masa Kecil Kami

Bukittinggi, Prokabar. “Wak jangkaulah,” kata teman semasa kecil. Kami lantas menjangkau Singgalang, kemudian Merapi, dua gunung sahabat anak-anak.
Desa kami tak datar, karena menempel kaki Marapi nan tabah. Kami menyaksikan sarasahnya, menghitung air terjun yang muncul dari gunung itu sehabis hujan. 

Dari rumah di desa terlihat lekuk-lekuknya. Bapak-bapak kami ka rimba mencari rotan. Juga ijuk.

Rotan dijual dan ijuk dijalin jadi tali. Talinya yang dijual.

Jika senja datang, langit jernih, gunung yang sahabat sekaligus kami takuti itu,  menguning bagai emas oleh sinar matahari.

Malam. Gelap kami tak peduli. Pagi air Marapi terasa sejuk, bahkan nyaris manis.

Kini Marapi meletus kecil. Batuk. Kalau dia marabo, kalang kabutlah kita. (nrs)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

To Top