Lebaran, momen tahunan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Lebaran adalah puncak dari kemenangan, puncak melepas rindu, dan puncak dari kebahagiaan. Bagi kita sebagai makhluk sosial, tidak ada yang lebih indah dari berinteraksi. Kami, prokabar.com, menyadari bahwa lebaran adalah momentum dimana interaksi adalah yang paling hebat. Saling menyapa, bersalaman, berpelukan, dan berbagi adalah interaksi yang hebat itu. Berlandaskan itu, prokabar.com merancang platform interaksi di website kami. Melalui halaman "mudik yok" warganet disuguhkan beragam informasi yang bermanfaat. Ada info lalu lintas, info cuaca, cctv dan berita seputar mudik, termasuk destinasi wisata di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, prokabar.com juga menyediakan fasilitas "message" di sudut kiri bawah halaman web. Dengan fasilitas ini pengunjung bisa berbagi foto teks dan video. Lalu tim kami akan menayangkan informasi yang anda bagikan. Yang lebih heboh lagi, sepanjang libur lebaran, prokabar membuat lomba artikel dengan tema umum lebaran di Sumatera Barat. Hadiah totalnya Rp. 10 juta. Lomba ini terbuka untuk umum, termasuk perantau yang sedang pulang kampung. Prokabar mengajak warganet untuk berbagi informasi di prokabar.com. informasi anda akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Selamat Lebaran, sempurnakan pulang kampung anda bersama prokabar.com Salam Tim redaksi
Artikel

​Dokumen Kemerdekaan Pers Setebal Bantal


PADANG-PROKABAR. Kemerdekaan pers yang dinikmati sekarang, menyimpan kisah perjalanan yang melelahkan. Bukunya setebal bantal.

Sebuah buku berjudul Memorie Van Teolichting UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers; 15 Hari Perjuangan untuk Kemerdekaan Pers tebalnya 1.295 halaman dengan puluhan halaman lampiran.

Buku ini disusun oleh Indonesia Media Law&Policy Center. Disusun Dyah Aryani dan kawan-kawan. Diterbitkan September 2007.

Buku ini berkisah 15 hari sidang-sidang di DPR yang menegangkan. Buku ini kata Ketua Dewan Pers kala itu Ichlasul Amal merupakan sebuah dokumen yang pantastik.

Buku setebal bantal itu menyimpan kata demi kata hingga akhirnya rancangan undang-undang disyahkan jadi  UU pers.

Sayang sedikit sekali wartawan yang memiliki buku ini. (nrs)

Berani Komen Itu Baik

To Top