Peristiwa

​Bukittinggi Berusia 233 Tahun, Ah Masa…

Bukittinggi, Prokabar – Hari ini Jumat 22 Desember 2017, Kota Bukittinggi berusia 233 tahun. Kota 72 bukit dan 300 bendi itu, didiami 118.652 jiwa. Kenapa setua itu benar usianya?

Menurut sejarah kota tersebut, pada 22 Desember 1784 seluruh pemangku adat di nagari Kurai rapat, mencari nama yang pas untuk pasar yang telah mereka bangun di puncak Bukit Kandang Kerbau. Rapat kemudian memutuskan nama pasarnya adalah Bukik nan Tatinggi. Lambat laun lidah rakyat menyebutnya, Bukittinggi.

Ini hari lahir yang pas, tak dicari-cari, dikait-kaitkan dengan sikap heriok melawan Belanda, tapi kalah juga. Bukittinggi natural, apa adanya. Penemuan tanggal itu, tak dibuat-buat, namun begitulah kejadian sesungguhnya.

Selama 233 tahun, kota dengan luas 25 Km2 itu, menjadi ikon Minangkabau. Kelak menjadi ikon Sumatera Barat. Di Kota ini, banyak peristiwa penting terjadi. Pernah jadi ibukota Republik Indonesia, ibukota Sumatera dan ibukota Sumatera Tengah. Punya Jam Gadang, yang tak ada di kota lain. Dibangun 1926, katanya temboknya dari putih telur, padahal pabrik semen di Indarung, Padang Pariaman (sekarang masuk Padang), telah ada sejak 1910. Jadi dapat dipastikan, Jam Gadang dibuat dengan memakai (sekarang bernama) Semen Padang.

Di kota ini pula ada benteng Fort de Kock. Benteng ini didirikan Kapten Bouer pada 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.

Di kota ini ada Sekolah Raja, sebuah lembaga pendidikan amat terkenal.

Pada 1855 Pemerintah Belanda merencanakan untuk mendirikan Sekolah Raja (bahasa Belanda: Kweekschool) untuk mendidik anak negeri melalui Surat keputusan pendirian Sekolah Raja untuk mendidik anak negeri yang dikeluarkan pada 1 April 1856.

Sekolah ini dipimpin Van Ophuysen dan dibantu seorang guru Melayu bernama Abdul Latif, anak Tuanku Imam dari Koto Gadang. Jumlah muridnya sepuluh orang, mereka dididik untuk menjadi guru. Lamanya pendidikan tiga tahun. Pada 1869 Guru Abdul Latif meninggal. Jabatannya digantikan Saidina Asin dari Koto Lawas, Padang Panjang. Dia ini pernah menjadi guru di Sekolah Melayu Bangkahulu.

Setelah melihat perkembangan Sekolah Raja selama tujuh belas tahun, timbullah niat pemerintah Belanda untuk mengadakan perubahan-perubahan. Tanggal 1 Maret 1873 Sekolah Raja diubah namanya menjadi Kweekschool. Guru kepalanya D. Gerth Van Wijk. Guru Belanda yang menjadi guru kedua yaitu Weide. Murid muridnya diasramakan dekat sekolah. Murid-murid ini diawasi oleh seorang guru melayu yang bernama Raja Medan. Salah seorang muridnya bernama Tan Malaka.

Di kota ini pula lahir dan didik Polwan pertama Indonesia. Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948. Ketika itu, pemerintah darurat Republik Indonesia di Kota Bukittinggi harus menangani arus pengungsian besar-besaran akibat agresi militer Belanda. Bukittinggi memang hebat. Polwan hebat itu berdarah Minangkabau dan juga berasal dari Ranah Minang, yaitu Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang (suaminya Sitomorang), Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein

Rosnalia Taher.

Bukittinggi adalah titik api, tujuan utama bisnis. One village one product sudah ada di sekitar kota ini berabad-abad lamanya. Makanya ada nasi kapau dari nagari Kapau, Sanjai dari Nagari Sanjai, pandai emas dari Guguak Tabek Sarjo, pandai perak, Koto Gadang, petani kacang, Matua, petani tebu, Lawang. Pandai besi, Sungai Pua, sayur mayur Banuhampu, konveksi Ampek Angkek. Kopi Bukit Apik. Semua dijual ke Bukittinggi. One village one Product paling tua di Indonesia.

Apa lagi? Kota wisata. Agar tak lelah membaca pergilah libur ke kota nan sejuk itu, dijamin tak menyesal.

Selamat Ulang Tahun Bukittinggi (nrs)

Berani Komen Itu Baik

Loading...
To Top