Yogyakarta, Prokabar.com – Lima hari berada di Kota Yogyakarta (26-30 April 2026), dan tiga hari penuh mengikuti undangan Komunitas Eksotika Desa dukungan UNESCO dan CRIHAP, Senin – Rabu (27 – 29 April 2026), sejuta pengalaman saya dapatkan dari orang-orang hebat dan berkarakter. 10 lembaga humanity dan pelaku kebudayaan terlibat langsung dalam kegiatan ini.
Pada kesempatan itu, ada ungkapan dari Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi sangat mencambuk jiwa dan pikiran saya meski sudah kembali ke Maninjau. Kalimat ini juga banyak kesamaan dari ratusan ungkapan orang Minangkabau yang membangun harkat martabat atau harga diri suku bangsanya.
“Ketika kita kehilangan rumah, kita tidak kehilangan apa-apa.
Ketika kita kehilangan keluarga, kita kehilangan separuh jiwa.
Ketika kita kehilangan harga diri dan martabat, artinya kita kehilangan segalanya.” Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menirukan kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ketika saya sampai di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), mendapat sambutan hangat dari Bang Faisal Ahmad dan Bapak Hisyam (Cucu Buya Hamka), mendapat sambutan hangat dengan jamuan gudeg terbaik.
Keramahtamahan setiap individu masyarakat Yogyakarta, sangat terasa kental dengan karakter berbudi luhur. Nila-nilai keislaman dan budaya lokal menjadi teladan bagi setiap orang Jawa.
Nilai-nilai kebudayaan inilah rahasia kota keraton Jogja menjadi contoh bagi suku bangsa di Indonesia. Ya, tidak ada yang sempurna, kelemahan dan kekurangan tentu ada. Akan tetapi dengan segenap upaya menjaga kebudayaannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X terus menekan minimalisir pengaruh asing dengan kebijakan-kebijakan mendukung masyarakat tidak berprilaku buruk akibat kemajuan informasi dan teknologi.
Setiap sudut kota dan pelosok desa, Daerah Istimewa Yogyakarta menanamkan nilai-nilai tidak sekedar seremonial dan simbol-simbol budaya semata. Akan tetapi ada kebijakan langsung dengan regulasi yang mengatur kearifan lokal masyarakat agar kuat mengakar pada kalangan kerajaan sampai masyarakat petani.
Setiap individu pedagang, pelayan hotel dan jasa transportasi pun sangat ramah menjunjung tata krama atau sopan santunnya melayani tamu. Rasa kagum ini menjadi bagian perjalanan sangat berharga.
Tidak hanya itu, sekitar penginapan Hotel Burza, tempat kami menginap dan berkegiatan juga terdapat sebuah masjid yang cukup viral dan fenomenal di tingkat nasional.
Masjid Jogokariyan. Hampir lima waktu ramai jemaahnya. Bahkan setiap hari, waktu sholat subuh dan Isya berjemaah, Masjid ini penuh jemaah dari semua tingkatan umur. Anak-anak, Remaja, Orang Dewasa dan Lansia. Bahkan dari berbagai kalangan pegawai kantoran, pedagang, pelajar, ibu-ibu aktifis, mahasiswa.

Kesadaran kolektif semua komponen lembaga sosial inilah rahasia kemajuan desa atau nagari dari suatu daerah, hingga ke puncak kepemimpinan Kepala Desa, Bupati atau Walikota hingga Gubernurnya. Dan kekuatan komunal desa atau Nagari, adalah kekuatan paling sejati. Paling mulia karena tidak berdasarkan apa yang akan ia dapatkan, sebaliknya nilai Harga Diri menjaga marwahnya sebagai Pemuka Masyarakat.
Pemimpin suku yang berbudaya (Local Wisdom), menjaga kesadaran diri sebagai manusia bermartabat dan berketuhanan yang Maha Esa. Pemimpin adat dan ulama inilah bertanggung jawab, menciptakan dan melahirkan generasi Islam yang bertanggungjawab sebagai pemimpin alam semesta. Menjaga keseimbangan alam sebagai Ciptaan Allah Subhanahu wa’ala. (rud)
















