Jakarta, Prokabar – Ada yang tak biasa saat pemain dan tim produksi film Petualangan Menangkap Petir bertemu dengan awak media. Salah satu pemainnya, Fatih Unru cemberut ketika sang produser Abimana Aryasatya menceritakan proses di balik syuting.
Saat ditanya mengapa wajah aktor cilik ini berubah, rupanya Fatih meluapkan kekesalannya. “Saya tuh punya skill baru selama syuting di Boyolali. Bisa main enggrang padahal itu susah banget. Eh nggak taunya dipotong, gimana nih produser ” celetuk Fatih yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.

Menanggapi keluhan Fatih, Abimana malah tertawa dan melemparkan pertanyaan itu kepada sang sutradara, Kuntz. “Tuh tanya sutradara, saya produser nih,” gurau Abimana sambil menunjuk ke arah sutradara.
Kekecewaan aktor yang juga komika cilik ini memang beralasan. Butuh waktu, tenaga dan konsentrasi bagi Fatih untuk bisa berdiri di atas enggrang. “Tau sendiri kan enggrang itu permainan yang sulit. Butuh keahlian buat bisa berjalan diatas enggrang,” keluh Fatih ketika ditemui Prokabar.com di Studio XXI Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (25/8).
Pemilik nama lengkap Andi Bumi Fatih Unru ini menceritakan bagaimana susahnya berlatih menggunakan enggrang. Butuh satu minggu bagi Fatih agar bisa berdiri dan berjalan menggunakan bambu.

“Keluhannya yang pertama adalah perut aku kan gendut. Nggak seimbang juga, sering jatuh diulang berkali-kali. Malah jempol aku ketusuk serat bambu karena nggak pakai sendal atau sepatu,” kenang Fatih yang berlatih selama seminggu di Jakarta.
Lokasi syuting di sebuah desa di Boyolali, Jawa Tengah pun menjadi pengalaman Fatih menginjakan kaki di sana. Bahkan Fatih senang bertemu teman-teman baru dan belajar main enggrang di sana.

“Aku belum pernah ke Boyolali, ini pertama kalinya. Seru, suasananya tenang. Betah di sana, aku juga belajar enggrang lagi di sana. Tapi ya itu, udah capek-capek malah nggak dipake,” kesalnya.
Meski begitu Fatih mengaku senang mendapat pengalaman seru selama sebulan syuting di Boyolali. “Yang didapat dari pengalaman syuting di desa, aku punya banyak teman. Bisa bicara dengan logat Jawa juga, tapi kalau sekarang disuruh ngomong Jawa udah nggak bisa lagi,” seru Fatih. (beb)
















