Kesehatan

Upaya Cegah Stunting, BKKBN Gencar Terapkan Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja

Dibaca : 120

Jakarta, Prokabar – Indonesia menjadi negara ke lima dengan angka stunting tertinggi di dunia. Terhitung 27 persen dari toleransi yang ditetapkan PBB sebesar 20 persen.

Melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Presiden Jokowi memercayakan penanggulanan stunting di Indonesia. Harapannya tiga tahun ke depan, penekanan angka hingga 14 persen.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris di acara Sosialisasi, Advokasi dan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Hotel Novotel, Jakarta, Jum’at (30/4) lalu.

“Artinya bila merujuk kepada Perpres, setiap tahunnya target penekanan stunting sebanyak 3,5 persen selama tiga tahun ke depan. Ini menjadi bahan untuk kita semua agar Indonesia terbebas dari stunting,” ucap Charles membuka perbincangan.

Hadir dalam acara ini Kepala Bidang PK2 Dinas PPAP Provinsi DKI Jakarta, Drs Ibnu Sholeh, MSi dan Plt. Deputi ADPIN BKKBN, Dr. Ir Dwi Listyawardani, M.Sc, Dip.Com.

Menurut Dwi Listyawardani, BKKBN tengah gencar menerapkan program Bangga Kencana. Yaitu Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana.

“Merencanakan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Kekhawatiran generasi yang dilahirkan kurang cerah dan kurang baik. Faktornya adalah gizi buruk yang terjadi sejak dalam kandungan, terhitung seribu hari kehidupan,” jelasnya.

Dalam program Bangga Kencana, wanita yang akrab disapa Dani ini menjelaskan bila BKKBN akan melakukan pendampingan secara menyeluruh.

“Kita akan melakukan pendampingan mulai dari calon pengantin tiga bulan sebelum menikah harus terdaftar sehingga kita bisa melakukan pemeriksaan. Sekaligus kita memberikan penyuluhan tentang persiapan kehidupan berkeluarga,” bebernya.

“Kita juga melakukan pendampingan kepada ibu hamil. Jadi ibu hamil memeriksakan kesehatannya, kalau ada gangguan akan segera tertangani,” tambahnya lagi.

Sebagai pesan kepada masyarakat, Dani menyampaikan empat hal penting yang harus diperhatikan.

“Jangan terlalu muda untuk menikah dan hamil minimal 21 tahun. Jangan terlalu tua diatas 35 tahun, jangan terlalu banyak dan rapat (jaraknya 3 tahun),” pungkas Dani. (beb)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top