Trending | News | Daerah | Covid-19

Bola

Tinggal 37 Hari Menuju Kick Off Liga 2, Apa Kabar Semen Padang FC?

Dibaca : 655

Oleh: Rizal Marajo

(Wartawan Utama)

Hari ini, Selasa 4 Februari 2020.
Jika tak ada perubahan jadwal kick off Liga 2 yang direncanakan 13 Maret 2020, maka kalau countdown dilakukan hanya tersisa 37 hari. Lazimnya sebuah pra kompetisi, dalam hitungan waktu tersisa itu sebuah tim biasanya sudah masuk pada latihan tactical dan strategi, bahkan sudah mulai merancang rencana ujicoba.

Beruntunglah tim Liga 2 yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri, yaitu mereka yang sudah melakukan rekrutmen pelatih dan pemain, serta menjalankan program latihan. Bagaimanapun, persiapan yang matang dan rapi, adalah 50 persen keberhasilan di kompetisi.

Sebaliknya, kabar buruk bagi tim yang masih berleha-leha, apalagi yang belum memulai persiapan sama sekali. Apa yang bisa dilakukan dengan waktu 37 hari? Padahal yang akan dihadapi adalah sebuah kompetisi yang panjang, ketat, dan kompetitif.

37 hari itu hanya hitungan kasar, dan waktu itu akan terus menyusut sampai semua pemain berkumpul dan memulai latihan. Akan banyak waktu habis untuk rekrutmen, dengan segala tetek bengeknya. Ujung-ujungnya waktu efektif mempersiapkan diri paling hanya tinggal 2-3 minggu.

Waktu dua minggu itulah yang harus dimaksimalkan. Mulai maintenence, latihan fisik, tactical strategi, dan ujicoba. Semuanya harus dikebut dalam waktu yang sangat singkat tersebut. Tak banyak yang bisa diharapkan dari cara instan,
tergesa-tesa, dan terkesan tak serius seperti itu.

Celaknya, salah satu tim yang terjebak dalam kondisi “nol” disaat waktu tersisa 37 hari adalah Semen Padang FC. Ironisnya, ditengah kondisi serba minus itulah, manajemen beberapa hari lalu sudah “terlanjur” menyebutkan melalui rilis resmi klub, bahwa target tim adalah lolos kembali ke Liga 1 dan menjuarai Liga 2, 2020.

Tidak salah jika banyak yang pesimis dengan prospek “Kabau Sirah” di Liga 2 musim ini. Bahkan mulai ada juga yang berfikir sedikit ekstrim, jangan lagi berfikir, lebih tepatnya bermimpi, untuk mencapai target lolos promosi ke Liga
1, bisa bertahan di Liga 2 saja sudah bagus.

Apalagi dilihat para pesaing seperti berlomba mempersiapkan diri, khususnya tim calon pesaing Semen Padang di Wilayah Barat. PSMS medan, begitu mereka gagal lolos ke LIga 1 musim 2019, tanpa jeda mereka langsung mempersiapkan tim untuk Liga 2 2020, dengan target mutlak, Lolos ke Liga 1.

Sriwijaya FC juga tak main-main, langsung merekrut pelatih berkelas dan gencar bermain di bursa pemain. Tak kalah sigap Badak Lampung, sama-sama terdegradasi dengan Semen Padang tapi Badak Lampung langsung pula menggeliat bangun, tak ingin berleha-leha mempersiapkan tim.

Terlepas dari masalah finansial yang menerpa Semen Padang, yang mengakibatkan tim ini mengalami pramusim terburuk sepanjang sejarahnya, memang tak ada waktu lagi bagi Semen Padang. Sisa 37 hari akan menjadi sebuah perjudian yang harus dilakukan Semen Padang.

Ada tiga komponen tim yang harus segera fix, yaitu manajemen, tim pelatih, dan pemain. Tiga komponen vital yang akan saling terkait dan tak terpisahkan menghadang kompetisi. Jika satu saja dari tiga komponen tersebut bermasalah,
alamat akan makin kelamlah Semen Padang yang sudah remang-remang.

Pertama, sampai detik ini Semen Padang belum menunjuk secara resmi pelatih kepala yang akan menjadi leader tim. Kabarnya, pria Portugal Eduardo Almeida digadang-gadang akan kembali menduduki kursinya.

Awalnya saya oke-oke saja ketika ada kabar Eduardo Almeida akan kembali diminta menukangi tim. Walaupun pelatih kesayangan suporter ini sebenarnya juga tak bagus-bagus amat setengah musim di Liga 1. Kelebihan pelatih satu ini adalah soal disiplin, profesionalitas, dan sangat detail selaku komandan tim.

Saya setuju jika Eduardo masuk lagi tapi dengan asumsi setidaknya 50 persen pemain di skuad Liga 1 masih ada dalam tim. Sehingga dia tinggal menambah atau menambal pemain yang sudah ada dengan rekrutan baru.

Tapi realitanya, sekarang hampir semua pemain sudah terbang ke klub-klub lain. Yang tersisa sebagaian besar adalah pemain yang selama ini jadi penghangat bench, tidak pernah masuk line-up, bahkan yang jarang pakai baju.

Artinya, Eduardo dituntut harus membangun tim dari nol lagi. Tentunya dengan pemain yang nyaris semuanya baru. Pertanyaanya seberapa paham Eduardo dengan pemain-pemain kelas Liga 2 di Indonesia, karena setengah musim di Semen Padang, dia hanya tahu pemain-pemain yang beredar di Liga 1.

Kemudian Eduardo juga akan berhadapan dengan situasi yang mungkin sangat asing baginya, karena Liga 1 dan Liga 2 akan sangat berbeda. Persaingan, atmosfir, intrik-intrik, akan berbeda. Sudahlan persaingan secara teknis sangat tinggi,
sisi non teknisnya luar biasa. Jangan heran, jika suatu ketika Mr Almeida akan terkaget-kaget dan geleng-geleng kepala melatih di Liga 2.

Satu-satunya harapan adalah, dia harus merekrut asisten yang benar-benar paham situasi Liga 2. Kalau harus menyebut nama, asisten yang paling paham dan mengerti atmosfir Liga 2 adalah Welliansyah.

Selain sudah nyetel dan bekerjasama setengah musim dengan Eduardo Liga 1, Welly juga “alumni” yang ikut mengantarkan Semen Padang promosi ke LIga 1 2019. Bahkan Welly saat itu sangat dominan di bench, tatkala pelatih kepala Syafrianto Rusli disibukkan mengikuti modul-modul Lisensi AFC pro. Jadi, akan sangat riskan kalau
ada niat menyodor-nyodorkan nama baru untuk jadi asisten, apalagi orang baru yang tak kenal apa itu Semen Padang FC.

Plan B, kalau misalnya nego dengan Eduardo mentok, solusinya adalah memakai lagi pelatih lokal. Satu nama yang mungkin bisa jadi pilihan adalah Jafri Sastra. Pelatih yang lihai dalam menyusun strategi ini juga sangat paham Liga 2. Pun, dia juga punya riwayat bagus saat melatih Semen Padang tahun 2014.

Bahkan saat itu dia mampu membentuk salah satu tim terbaik yang dimiliki Semen Padang. Fakta lagi, sejarah membuktikan bahwa prestasi-prestasi terbaik yang didapat Semen Padang di kompetisi nasional, tatkala tim dipegang oleh pelatih lokal.

Jika pelatih sudah fix, tentu urusan berikutnya adalah rekrutmen pemain. Inilah dilema terbesar Semen Padang. Keterlambatan bergerak, membuat Semen Padang bakal cukup kesulitan juga mencari pemain berkualitas.

Tapi disi lain, saat persiapan sudah mepet tentunya yang harus dicari adalah pemain yang sudah jadi dan siap berkompetisi dengan persiapan singkat. Pemain-pemain tipikal ini akan lebih banyak ditemukan berlabel jebolan Liga 1 dan harganya juga tidak murah meriah. Sementara pemain berkualitas “spesialis Liga 2”, umumnya sudah diambil tim-tim LIga 2 lain. Kasarnya, Semen Padang akan banyak bernegosiasi dengan pemain “sortiran” dari klub pesaing.

Situasi cukup pelik inilah yang harus dihadapi Semen Padang. Tapi itulah konsekwensi dari sebuah keterlambatan menyongsong sebuah kompetisi. 37 hari yang yang bakal jadi episode 1 drama Semen Padang musim 2020. Episode 2-nya adalah hasil kompetisi itu sendiri, apakah akan berakhir happy end atau sebaliknya.

Bola sekarang ada ditangan manajemen yang dituntut profesional, sebagaimana syarat yang diminta oleh sang pemberi dana. Berfikir cepat dan bertindak sigap, itulah yang ditunggu pecinta Semen Padang FC. Lamo lai ko?


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top