Trending | News | Daerah | Covid-19

Nasional

Terkait Gejolak Injil Berbahasa Minang, Ini Tanggapan Filsuf UGM asal Solok

Dibaca : 1.2K

Padang, Prokabar — Anggun Gunawan, seorang pemerhati filsafat, literasi dan budaya asal Kota Solok ini menanggapi serius beredarnya Injil Berbahasa Minangkabau. Akademisi tamatan Jurusan Philosophy of Reliqion UGM ini sangat tidak setuju tindakan oleh orang tidak bertanggung jawab tersebut. Dan perlu diklarifikasi oleh pihak tersebut.

“Sebenarnya gini ya Guys. Kalau sebuah etnis telah menetapkan agama anutan buat masyarakatnya, itu sah-sah saja. Apalagi menyatunya Islam dan Minangkabau, panjang sejarahnya. Dan dari pemuka adat, agamawan dan masyarakat biasa menerima diktum Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dan hampir tidak ada perlawanan dan penentangan terhadap ABS-SBK itu beratus-ratus tahun lamanya. Yang ada malah gerakan memperkuat penerapan syariat Islam dalam kerangka ABS-SBK itu,” ungkap Anggun Gunawan.

Orang Minang lanjutnya, punya sistem pengambilan keputusan yang unik. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang demokratis di antara masyarakat-masyarakat lain di bumi Nusantara. Di setiap level-level komunitas terjadi rapat untuk mufakat. Dari tataran “Saparuik” alias satu nenek, sa jorong, sa nagari, sa luhak sampai nanti pada level Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau yang merupakan kumpulan dari penghulu-penghulu pucuak di masing-masing Nagari. Dan keputusannya adalah Identitas Minangkabau melekat erat dan kuat dengan Identitas Keagamaan (Islam).

CEO at Gre Publishing ini melanjutkan, apakah itu melanggar HAM dan Konstitusi? Saya pikir tidak. Hukum Nasional Indonesia dirumuskan dengan mengambil inspirasi dari hukum-hukum adat etnis-etnis yang ada di Indonesia. Dan saat ini ada Undang-Undang Masyarakat Adat. Yang isinya adalah perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat untuk hidup dengan nilai-nilai yang sudah mereka sepakati bersama dan menjadi way of life dari etnis atau suku-suku yang ada. Di KOMNAS HAM sendiri ada Ketua yang khusus menaungi Hak dan Persoalan-Persoalan Masyarakat Adat ini.

“Nah, soal Injil atau Alkitab berbahasa Minang sebenarnya kan perlu diklarifikasi. Ini tujuannya buat apa? Apakah ingin mengkristenkan orang Minang atau bagian dari kampanye untuk saling memahami satu sama lain di antara pemeluk agama agama yang ada di Indonesia?

Kalau ini bagian dari agenda Kristenisasi, tentu saja orang Minang marah. Karena beratus atau bahkan beribu tahun lamanya orang Minang telah menjadikan identitas kebudayaan melekat dengan identitas keagamaan (Islam).

Hal itu pilihan dan hak setiap etnis. Sebagaimana Yahudi yg mendaulat diri sebagai agama bangsa. Artinya anda ngak bisa menjadi orang yahudi jika tidak punya darah yahudi,” ujar Mahasiswa Jurusan MA publishing Media di Oxford Brookes University tersebut.

Kemudian, Kalau ada yang tidak suka dengan diktum “Minang itu Islam” maka masyarakat adat Minangkabau sendiri yang memutuskan apakah mau dikaji ulang atau tetap dipertahankan. Jadi bukan urusan etnis lain. Dan jika ada orang Minang sendiri yang mempermasalahkan, maka ia harus berhadapan dengan Majelis Tinggi Kerapatan Adat Minangkabau atau LKAAM saat ini. Jika keberatan itu hanyalah suara satu dua orang Minang yang cuma sekedar mencari sensasi saja demi mendapatkan duit dari riset-riset kontroversial. “Maka apakah konsensus ABS-SBK yang sudah jamak diterima masyarakat Minang itu harus direvisi?,” luasnya.

Jika Injil berbahasa Minang itu bagian dari Kristenisasi, maka wajar orang Minang marah. Karena itu memporak-porandakan tatanan nilai dan budaya yang sudah mereka anut sekian lama.

Orang Minang mempersilahkan kepada orang Minang yang ingin pindah agama. Bahkan adik satu ayah lain ibu Buya Hamka adalah seorang pendeta kawakan. Tapi bagi orang Minang walaupun ia keturunan seorang ulama besar dan rahim ibu yang taat berminang, setelah memutuskan pindah agama, maka ia bukanlah orang minang lagi. Terbuang secara adat. Silahkan memulai hidup baru dengan agama baru dan tentu lepaskan identitas keminangan. Dan orang Minang tidak akan mengusik kehidupan dia jika memang sudah memutuskan pindah agama. Selama ia juga tidak mengusik orang Minang dengan memperbanyak orang-orang Minang lain untuk turut dalam keyakinan baru yang ia anut.

Jangan kemudian nama minang dan suku-suku Minang dibawa-bawa. Silahkan pindah agama, tapi lepaskan identitas keminangan. Karena pemakaian identitas itu harus lewat persetujuan dari pemilik kebudayaan itu sendiri.

Orang Minang tidak mempermasalahkan jika Orang Jawa tidak menjadikan Islam sebagai identitas etnis. Karena Jawa punya sejarah dan pilihan sendiri.

Sebuah konsensus etnisitas adalah hal yang biasa dan harus dihormati oleh siapapun. Bahkan saat ini saja malah diperbolehkan suku-suku tradisional menganut agama lokal demi menjaga tradisi dan keyakinan yg sudah menjadi bagian tak terpisahkan di antara masyarakat adat tersebut.

Apabila injil terjemahan berbahasa Minang itu bertujuan untuk meningkatkan sikap toleransi beragama di kalangan orang Minang, saya pikir ini tentu salah alamat. Karena toleransi itu tidak mewajibkan orang untuk paham isi kitab suci dari agama lain. Toleransi itu bisa dibangun dengan memakai platform bersama dan nilai-nilai kebangsaan bersama. Misalnya lewat penjelasan butir-butir Pancasila.

Selama tidak ada tindakan memusuhi umat lain dan orang-orang agama lain diberikan kesempatan ibadah tanpa rasa takut, maka sesungguhnya toleransi itu sudah terbangun. Soal membaca kitab agama orang lain adalah pilihan sukarela dan sangat berkaitan dengan kebutuhan khusus.

Misalnya, ada orang yang ingin belajar Kristologi. Kalau perlu belajar bahasa aramaic/syiriac yang asli atau belajar bahasa Latin. Sehingga makna dari AlKitab bisa dipahami secara benar dan tidak tergerus atau terdistorsi oleh dilema pemaknaan serta miskinnya kosa kata dari bahasa terjemahan.

Tapi apakah masyarakat awam memiliki kepentingan untuk baca kitab suci agama lain? Saya pikir ngak penting buat mereka. Baca terjemahan Al Qurán saja juga malas.

Penerjemahan sebuah kitab suci membutuhkan effort dan expertise yang ngak main-main. Untuk menerjemahkan Al Qurán ke dalam bahasa Indonesia, kementerian agama membuat tim yang terdiri dari sekian professor ahli tafsir al qurán, ahli bahasa arab dan ahli bahasa Indonesia. Artinya, butuh kepakaran yang kuat dan investasi yang besar. Karena ngak mungkin tim penerjemahan bekerja gratisan saja.

Ketika sebuah terjemahan kitab suci masuk ke marketplace, maka sesungguhnya ia tunduk kepada hukum ekonomi. Ada pasar yang ditarget, ada hitungan laba dan rugi atas investasi yang sudah dikeluarkan. Apabila sudah diketahui bahwa sebuah proyek atau produk tidak memenuhi analisis keterserapan pasar karena marketnya yang kecil, tapi kemudian sang produsen tetap ingin memasarkannya, pasti ada motif tertentu di luar bisnis di balik pemasaran tersebut.

“Jadi sebenarnya, kita dah capek ribut-ribut soal agama ini di Indonesia. Biarlah orang Islam tenang dan kita juga ingin orang Kristen serta kawan-kawan agama lain hidup tentram. Jalani saja agama masing-masing, tanpa harus rebutan umat atau pengikut. Yang mau pindah agama dipersilahkan saja dengan azas tanpa paksaan dan lahir dari kesadaran pribadi,” terang Anggun Gunawan.

Tapi jika masuk pada ranah melompati pagar orang lain, membidik umat lain atau etnis tertentu untuk dipindah-agamakan secara sistematis, sebenarnya inilah duri-duri yang membuat hubungan sesama anak bangsa selalu riuh dan panas. Yang tak tahu bagaimana konsep beradat dan berislam orang Minang, tak usah pulalah berkomentar banyak. Jangan samakan pilihan identitas etnis anda dengan orang Minang. Karena sama saja anda sedang memakai kacamata kuda untuk menilai sebuah kebudayaan yang anda bukanlah bagiannya dan tidak mengetahui lika-likunya.

Dari sudut pandang linguistik atau kebahasaan, sebenarnya di kampung-kampung Sumatera Barat orang sudah ber-Indonesia Raya. Alias Bahasa Indonesia dengan logat dan struktur bahasa Minang.

Bacaan orang Minang pun sebenarnya juga sudah sangat Indonesia. Hampir tidak ada koran yang berbahasa minang di Sumatera Barat. Kecuali beberapa kolom sastra dan budaya.

Kekuatan budaya merantau telah membuat orang Minang menjadi sangat urban. Beda dengan di Jawa. Masih banyak orang di desa yg masih susah berbahasa Indonesia. Terutama generasi di atas 60 tahun.

Di pasar-pasar di Jogja, Si Mbah pedagang sayur ketika diajak bicara bahasa Indonesia, masih membalas dengan bahasa Jawa. Di Jawa pun banyak gereja-gereja kristen Jawa. Yang membuat Injil berbahasa Jawa diperlukan.

“Nah, kalau bikin injil berbahasa Minang ngak ada gunanya. Pertama, sudah ada diktum orang MINANG ITU ISLAM. Jadi marketnya bisa dikatakan Nol. Kalau agak moderat, nol koma. Selain itu, lebih terbiasanya orang Minang dengan literasi berbahasa Indonesia sampai ke pelosok-pelosok kampung. Mungkin bagi filolog akan lebih menarik jika Injil itu dalam bahasa Minang dan beraksara Arab Melayu. 100 tahun lagi akan mahal harganya. Karena akan jadi dokumen menarik untuk penelitian,” pungkas Founder dan CEO Gre Holdings ini. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top