Jakarta, Prokabar – Menciptakan penduduk yang berkualitas melalui perencanaan yang holistic, seperti pencegahan stunting sejak dini (sejak di dalam kandungan) BKKBN terus mendorong masyarakat di Indonesia untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas dengan perencanaan yang dilakukan.
Salah satunya BKKBN mengelar sosialisasi dan komunikasi, informasi dan edukasi atau KIE, program Bangga Kencana bersama mitra kerjadi di kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Acara dengan tema “Karena Anak Adalah Pembawa Harapan, Cegah Stunting Sejak Dalam Kandungan” ini dihadiri sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) dan komunitas difabel, orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, guru, dan tamu undangan lain.
Direktur Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Eka Sulistia Ediningsih, SH menjelaskan melalui sosialisasi ini semua pihak diharapkan bisa bersama-sama menggali potensi dalam memberikan kontribusi yang dilakukan dalam mendukung suksesnya program Bangga Kencana.
“Dua anak saja cukup, mungkin bagi bapak ibu tidak cukup. Saya katakan dua anak lebih baik, tetapi mungkin bagi bapak ibu tiga anak lebih baik dari pada dua anak. Oleh karena itu juga perlu di diskusikan lebih detil, itu perubahan yang terjadi, lagu mars keluarga berencana didalam syairnya mengajak untuk membuat keluarga yang berkualitas,” jelasnya.
Kalau dulu namanya Keluarga Berencana, dan pernah berubah menjadi Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga yang kemudian biar mudah di ingat menjadi proram Bangga Kencana.
“Dimana ada beberapa perubahan seperti logo dan slogan yang baru. Pada dasarnya Program Berencana itu adalah sebuah perencanaan yang holistic terhadap upaya mewujudkan keluarga berkualitas. Dari sisi siklus hidup dari persiapan menikah hingga lanjut usia,” sambungnya.

Konsultan ahli stunting BKKBN, dr. Hernalom Gultom memaparkan bahwa peran semua pihak, khususnya orang tua dalam mencermati pertumbuhan remaja dan memahami persoalan-persoalan yang dihadapi, terlebih disaat timbulnya dorongan seksual sangat penting. Sehingga perlunya orang tua atau guru bisa memahami kesehatan reproduksi remaja.
“Yang pertama adalah orang tua yang bertanggung jawab tentang pembinaan si anak. Mulainya anak bergerak dan bangun itu awalnya dari rumah, oleh karenanya orangtua harus mulai meningkatkan pemahamannya tentang kesehatan reproduksi anaknya,” bebernya.
“Orangtua dari awal sudah harus mempersiapkan dan mendukung. Kemudian harus memastikan bahwa kebutuhan anak dalam mengembangkan kesehatan reproduksi terpenuhi atau tercukupi. Kebutuhan tidak hanya dari segi fisik tetapi juga kebutuhan mental dan spiritual anak. Contoh adalah apa pendapat agama soal reproduksi dan hubungan sejenis maupun lawan jenis, inilah yang harus ditekankan oleh orang tua kepada anak-anaknya,” pungkas Hernalom. (beb)
















