Kolom Sepakbola Rizal Marajo
Italia meroket di bursa juara Euro 2021, setelah menyelesaikan dua pertandingan di Grup A. Menang 3-0 atas Turki di laga pembuka, tiga hari kemudian melibas Swiss dengan skor sama.
Mencetak enam gol, tanpa kebobolan di dua laga, adalah start terbaik Italia di turnamen besar. Statistik itu terbaik sejauh ini dari 24 tim yang mentas di Euro 2021.
Catat juga, Turki dan Swiss dipermak Italia bukan tim sembarangan di Eropa. Keduanya tim ulet dan kerap merepotkan negara unggulan di setiap turnamen besar. Tapi, keduanya seperti tak berarti di hadapan Azzurri.
Kini, Italia dipandang sebagai kandidat serius menjadi juara Euro edisi HUT ke-60 ini. Mereka kini disetarakan dengan Prancis, sedikit diatas Portugal, Belanda, Inggris, atau Jerman.
Jangan-jangan, dengan bursa juara yang terus berkembang, Italia bakal bertemu Prancis lagi di partai final 12 Juli mendatang. Siklus 20 tahun, seperti Prancis dan Italia bertemu di final Euro 2000.
Apa yang membuat Italia berbeda tahun ini. Mungkin jawabannya adalah sosok pria flamboyant bernama Roberto Mancini.
Mancio, begitu dia disapa, disebut telah mengangkat kembali martabat Timnas Italia. Ketika ia datang dua tahun lalu, Gli Azzurri baru saja menjalani salah satu episode paling memalukan dalam sejarah mereka.
Di bawah asuhan Gian Piero Ventura, Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Betapa tidak memalukan, terakhir kali Italia tak lolos Piala Dunia adalah tahun 1958, atau 60 tahun sebelumnya. Tiba-tiba catatan bagus 60 tahun itu dirusak oleh Ventura.
Saat itulah Mancini masuk mengambil alih komando Timnas Italia. Tugas berat menantinya, musim perdana UEFA Nations League telah menanti. Gli Azzurri juga menyongsong kualifikasi Piala Eropa yang menjadi pertaruhan Mancini.
Tiga tahun kemudian
Mancini membuktikan Italia belum habis dan masih layak diperhitungkan di Eropa, bahkan dunia. Ketika Mancini datang, Italia menempati peringkat 17 di ranking FIFA, bahkan kalah dari negara seperti Chili dan Swedia.
Jelang Euro 2021, Azzurri sudah di peringkat tujuh, hanya kalah dari Spanyol, Portugal, Inggris, Brasil, Perancis, dan Belgia. Naik 10 tangga di level elit dalam tempo tiga tahun, bukan prestasi sembarangan.
Mancini telah membuat Italia kembali impresif dua tahun ditangannya. Lihatlah di kualifikasi Euro 2021, tergabung di Grup J, Gli Azzurri memenangi semua pertandingan, sempurna.
Pada tahun 2019, anak asuh Mancini meraih 11 kemenangan beruntun, memecahkan rekor pelatih legendaris Vitorio Pozzo. Sejak kalah dari Polandia pada September 2018, Italia juga belum terkalahkan dalam 26 pertandingan. Mancini butuh tiga laga tanpa kekalahan lagi untuk menyamai rekor Pozzo yang dicetak pada 1935-1939.
Kini, Euro 2021 menjadi ujian sesungguhnya bagi Mancini. Dua laga pertama sudah dilwatinya dengan sempurna, dan sudah memegang tiket sebagai tim pertama yang lolos ke babak 16 besar.
Tidak banyak yang diperbaiki Mancini sebenarnya, ketika ia mengandalkan formasi dasar 4-3-3 ketika menghadapi pertandingan. Yang paling menonjol, Mancini berani meninggalkan gaya bermain turun temurun yang sudah menjadi brand Timnas Italia, yaitu fokus kepada soliditas pertahanan.
Mancini merubahnya menjadi lebih agresif dan menyerang dengan rapi dan konsisten melalui dua full bek. Sudah jarang Italia bermain menunggu lawan di daerah sendiri, tapi cenderung berupaya merebut bola di area lawan.
Dengan gaya main yang revolusioner itu, Italia tak lagi gagap jika berhadapan dengan tim-tim selevel. Gli Azzurri tetap berupaya tampil dominan saat menghadapi tim sekelas Belanda atau Polandia.
Walaupun begitu, Mancini tentu saja tak melupakan pertahanan solid yang menjadi style khas mereka sejak dulu. Buktinya, 11 pertandingan terakhir, termasuk dua laga Grup A di Euro 2021, mereka menang tanpa kebobolan.
Dari sisi skuad, memang masih ada senior macam Giorgio Chielini dan Leonardo Bonucci, Ciro Immobile, atau Lorenzo Insigne, tapi dipadukan dengan nama-nama baru yang berkelas.
Emerson Palmieri dan Stefano Sensi yang jarang tampil di level klub tetap dibawa. Ada juga Nicolo Barella, Federico Bernadeschi, Manuel Locateli, Lorenzo Pellegrini, Bryan Cristante, dan tentu saja kiper fenomenal, Gianluigi Donnarumma.
Lihat juga Matteo Politano dan Vincenzo Grifo, yang sebenarnya belum begitu akrab di telinga. Tak ketinggalan, pemain klub sekelas Sassuolo, Domenico Berardi pun akhirnya mendapat tempat di skuad Gli Azzurri.
Setelah aib absen di Piala Dunia 2018, kini Italia ibarat sebuah tim terlahir kembali. Semuanya tak lepas dari kinerja Mancini yang sejauh ini sangat memuaskan.
Patut dinanti, sejauh mana “Italia baru” racikan Mancini ini bisa terbang tinggi di Euro 2021. Jika tetap konsisten, sepertinya mereka cukup layak memainkan laga final 12 Juli mendatang.
Jadi, sampai Jumpa di Wembley, Gli Azzurri? (*)
















