Artikel

Robohnya Kehangatan Lebaran di Kampung Kami

Dibaca : 1.2K

Oleh: Rizal Marajo

Luar biasa cerah pagi ini, matahari bersinar sempurna menyungkup kampung indah di kaki Gunung Marapi ini. Cahayanya kuning keemasan, berkilau menyinari embun dingin yang pasrah untuk dipecahkan sinar sang mentari. Hari ini, 1 Syawal 1441 H.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar….laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar wa lillaahil-hamd. Laungan takbir itu masih terdengar mendayu-dayu dari mesjid.

Tapi hari ini begitu berbeda dari hari raya tahun-tahun sebelumnya. Seperti ada yang hilang, ada yang berjalan tak seperti biasanya. Kesepian ini terlalu menikam ulu hati, menyusup jauh ke relung hati terdalam.

Masih ada shalat Ied, tapi untuk pertama kali sepanjang sejarah, shalat Ied harus dengan protokoler khusus. Harus memakai kupon, sebagai jaminan menunjukkan warga setempat, suhu badan diukur dengan thermogun, shaf jaga jarak, bawa sajadah sendiri. Dan, khotbah pun dibatasi hanya 10 menit.

Kegembiran yang terkungkung di hari yang fitri, kemeriahan yang tak lepas seperti layaknya hari Raya. Ritual suci sekali setahun yang biasanya begitu hangat terjalin di kampung kecil itu, tiba-tiba berjalan dingin dan tak sempurna lagi.

Tak banyak jabat tangan hangat usai Shalat, karena ada was-was menyelinap dalam hati.  Semuanya bergegas keluar mesjid dan melangkah pulang. Dingin, lebaran yang kehilangan suara  riuh kegembiraan. Tak ada perantau yang pulang tampil beda dengan membawa style berpakaian dan gaya bicara yang sudah kerantau-rantauan.

Dulu seusai shalat Ied, jalanan kampung akan ramai, tuan rumah yang tegak di teras rumah akan memanggil dan menyapa siapapun lewat untuk singgah. Anak-anak, berkelompok-kelompok menyapu bersih semua rumah untuk sekadar singgah.

Ya, mereka “menambang’ untuk sekadar mendapat uang baru 2000 rupiah yang garing. Senyum malu-malu dari wajah-wajah polos itu  saat menerima uang baru,  membuat kita tersenyum, tak tahan untuk membelai kepala mereka.

Para remaja putra dan putri, mereka yang selalu jadi pagar dan bunga nagari, biasanya dengan tingkah mereka yang lugas, blak-blakan, tapi tetap santun, akan kompak menjejak setiap rumah penduduk, walau sekedar untuk bersalaman dan bermaaafan. Sekarang tak tampak lagi.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top