Maninjau, Prokabar.com – Kondisi korban banjir bandang Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya di sejumlah pengungsian cukup memprihatinkan saat ini, Senin (15/12). Selain berada di tenda-tenda bantuan BPBD dan BNPB juga banyak yang menumpang di rumah warga atau sanak saudaranya yang sudah mulai sesak dan sempit.
Hujan yang terus mendera, membuat suhu dingin yang mencucuk sampai ke tulang sum-sum mereka. Sebagai besar yang rumahnya hancur dan hanyut, hanya pakaian terpakai di badan terselamatkan. Selebihnya telah musnah terbawa banjir bandang.
Pada posko pengungsian di Data Jorong Labuah, terdapat sekitar 600 jiwa lebih yang menumpang ke rumah-rumah karib kerabat atau tetangga. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan menumpang, hanya bisa berharap ada secercah solusi nyata dari pemerintah membangun hunian sementara atau rumah permanen. Mengganti tempat tinggal yang lama, karena tidak lagi layak untuk ditempati.
Belum terpikirkan bagaimana nasip kedepan, kondisi saat ini saja cukup menekan jiwa dan raganya. Untuk bertahan hidup saja sudah mujur, apalagi memikirkan rumah, sawah, ladang dan kolam ikan yang telah luluh lantak akibat hantaman air bah itu.
Meski bantuan bertubi-tubi datang memasok makanan dan minuman, namun selimut, kasur, bantal, obat-obatan, sabun mandi, sabun cuci dan handuk masih minim. Parahnya, untuk mandi dan mencuci pun susah mendapatkan air bersih. Adapun bantuan, tentu tidaklah cukup dengan jumlah 600 jiwa. Bahkan pengungsian warga Labuah yang berada di Jorong Kubu dan Nagari akan bergabung, memungkinkan jumlah pengungsian akan melonjak mencapai 1000 jiwa.
Kondisi ini membuat penumpukan pemukiman yang membutuhkan penanganan khusus dengan pendampingan terbaik hingga pemulihan pasca bencana sampai tuntas.
Sementara itu, sebagian warga Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang lainnya berhasil menyelamatkan diri ke Tapian Ujuang, Jorong Bancah, Nagari Maninjau. Mereka membuat Posko Pengungsian Ujuang dengan jumlah jiwa 185 orang dengan 67 KK.
Kondisi di sini lebih memprihatinkan karena sebagian keluarga memakai tenda orange milik BPBD dan BNPB. Pada awal pengungsian, hanya menggunakan trapal biru untuk alat panen padi.
Kedua lokasi pengungsian ini, baik berada di Data Jorong Labuah Nagari Sungai Batang, maupun di Ujuang dan Kubu Gadang, Nagari Maninjau sama-sama butuh pembuatan saluran air bersih, pengelolaan dapur umum profesional, peralatan tidur dan mandi yang memadai. Pemeriksaan kesehatan secara rutin, banyak warga kelelahan akibat mendrop pasokan makanan yang datang. Bantuan sering datang, tidak bisa sampai diantar ke lokasi karena akses jalan untuk roda empat sempat terputus.
Kondisi semakin menyedihkan, cuaca ekstrim, membuat tubuh kedinginan. Dan mereka butuh perhatian serius dari semua pihak. (rud)
















