Jakarta, Prokabar — Hari Hepatitis Sedunia diperingati setiap 28 Juli, dan 2018 ini mengambil tema “Deteksi Dini Hepatitis Selamatkan Generasi Penerus Bangsa”. Peringatan ini setiap tahunnya perlu menjadi momentum untuk terus meningkatkan perhatian, kepedulian, dan pengetahuan berbagai pihak terhadap masalah virus Hepatitis di Indonesia.
Hal itu disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu dalam temu media Hari Hepatitis Sedunia, di Kemenkes Jakarta, Jumat (27/7).
“Pemerintah berharap upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya hepatitis dilakukan tidak hanya saat peringatan Hari Hepatitis Sedunia saja tapi juga dilakukan terus menerus dalam setiap kegiatan di masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, pengetahuan dan kesadaran yang tinggi tentang bahaya hepatitis dan faktornya dapat menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia.
“Kita bisa mendukung dan mengurangi beban individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah akan kerugian yang kita terima apabila masyarakat banyak yang menderita/terkena hepatitis. Maka penting sekali untuk mendeteksi hepatitis sejak dini agar eliminasi hepatitis B dan C, di 2030 tercapai,” ujar Wiendra.
Menurutnya, pengendalian Hepatitis virus berdampak sangat serius terhadap derajat kesehatan masyarakat. Indonesia adalah negara endemis tinggi hepatitis, di 1997 pemerintah Indonesia telah melakukan upaya pencegahan dengan melakukan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir.
Indonesia telah melakukan upaya pengendalian hepatitis B sejak 2014 dan dilakukan pilot project Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) pada ibu hamil di Provinsi DKI Jakarta.
“Pada 2015 DDHB dilaksanakan di beberapa provinsi pengembangan dan 2016 DDHB sudah dilaksanakan secara nasional. Kegiatan DDHB meliputi pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui status hepatitis B,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, apabila hasil pemeriksaan ibu hamil tersebut reaktif maka dilakukan pemantauan hingga bersalin. Sedangkan anak yang lahir dari ibu hamil hepatitis B reaktif maka diberikan HB0 (dosis lahir) dan HBIG kurang dari 24 jam setelah dilahirkan, serta menyarankan ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas layanan kesehatan.
“Dengan melaksanakan DDHB berarti sudah melakukan upaya deteksi dini untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa,” katanya.
Capaian pengendalian hepatitis di Indonesia mulai 2016 hingga Juni 2018 yaitu:
1. Melakukan sosialisasi faktor risiko penyakit hepatitis di 34 provinsi.
2. Melakukan imunisasi rutin hepatitis B pada bayi di 34 provinsi dengan capaian lebih dari 93,5 persen.
3. Deteksi dini hepatitis B sudah dilakukan di 34 provinsi dan 244 kabupaten/kota di Indonesia.
4. Telah dilakukan deteksi dini hepatitis sebanyak 742.767 ibu hamil dan berhasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancaman penularan vertikal dari ibunya.
5. Memulai pengobatan hepatits C dengan obat Direct Acting Antiviral (DAA) pada 13 provinsi yang diduga jumlah penderita hepatitis C terbanyak. (*/hdp)
















