Trending | News | Daerah | Covid-19

Nasional

Pengakuan Perantau, Masyarakat Wamena Itu Sebenarnya Orang yang Ramah

Dibaca : 173

Padang, Prokabar – Banyaknya perantau Minang yang kembali ke tanah kelahiran setelah keadaan mencekam yang menimpa seluruh pendatang di tanah cendrawasih. Berbagai lokasi dan bermacam orang menyisakan kesan yang berbeda-beda. Begitu pula yang dialami oleh Firman (38).

Lokasi tempat ia berjualan tidak tersentuh oleh pelaku kerusuhan yang mengakibatkan beberapa lokasi di daerah itu hangus terbakar.

“Saya berjualan di daerah Pasar Baru yang merupakan pasar terbesar di Wamena. Saat kami mendengar pelaku itu akan menyerang, kami bersama-sama dengan pedagang lainnya melakukan penghadangan,” ujarnya.

Nasrul Abit Indra Catri

Ia menceritakan, saat ia bersama ratusan pedagang lainnya melakukan penghadangan, pelaku kerusuhan yang sudah membakar beberapa pasar sebelumnya mundur dan tidak menyerang mereka.

“Kalau di Pasar Baru kami semua aman dan seluruh pedagang di sana juga aman,” sambungnya.

Menurutnya, ia melakukan penghadangan dengan cara berkumpul di lokasi bagian depan pasar menggunakan senjata seadanya.

“Alhamdilillah mereka mundur setelah kami melakukan penghadangan,” lanjutnya.

Setelah melakukan penghadangan, beberapa saat kemudian personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) langsung menyambangi mereka dan membawa mereka ke tempat pengungsian.

“Sekitar satu kilometer dari daerah Pasar Baru ke Makodim 1702 Jayawijaya kami diangkut menggunakan truk,” sambungnya.

Setelah dievakuasi ke lokasi pengungsian, ia bersama istri dan tiga orang anaknya diberangkatkan ke Jayapura tempat pengungsian selanjutnya.

Setelah sepekan di tempat pengungsian, ia langsung diberangkatkan ke Sumatera Barat oleh ACT bersama 131 orang perantau lainnya.

“Kami berada di Jayapura setelah kejadian itu hingga Kamis (3/10)sebelum keberangkatan,” sambungnya.

Ia menyatakan bahwa dirinya akan kembali ke Tanah Cendrawasih setelah memastikan keadaan kondusif dan aman.

“Setelah keadaan benar-benar aman saya akan kembali ke sana untuk melanjutkan berdagang sembako. Jika memungkinkan, saya akan membawa istri dan tiga orang anak saya,” sambungnya.

Menurutnya, masyarakat di Wamena adalah orang-orang yang ramah dan mudah diajak bersosialisasi. Tetapi keadaan saat itu sangat mengagetkannya.

“Masyarakat di sana itu tergantung pembawaan kita, kalau kita baik, maka mereka akan baik juga. Tapi keadaan itu diluar perkiraan saya,” sambungnya.

Dirinya yang sudah berada di Papua sejak tahun 2004 lalu menyatakan bahwa keadaan seperti dua pekan lalu itu baru terjadi sekali sejak ia menginjakkan kaki di tanah Cendrawasih.(*/mbb)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top